<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bangku Depan</title>
	<atom:link href="http://www.bangkudepan.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.bangkudepan.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 15 Feb 2010 18:16:20 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.3</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>L&#8217;amour et la Passion de Coco</title>
		<link>http://www.bangkudepan.com/?p=327</link>
		<comments>http://www.bangkudepan.com/?p=327#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 18:10:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dinda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[alessandro nivola]]></category>
		<category><![CDATA[anak bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[anne fontaine]]></category>
		<category><![CDATA[audrey tautou]]></category>
		<category><![CDATA[bangku]]></category>
		<category><![CDATA[bangkudepan]]></category>
		<category><![CDATA[bangkudepan.com]]></category>
		<category><![CDATA[benoit poelvoorde]]></category>
		<category><![CDATA[berita film]]></category>
		<category><![CDATA[bioskop]]></category>
		<category><![CDATA[blitz megaplex]]></category>
		<category><![CDATA[box office]]></category>
		<category><![CDATA[chanel]]></category>
		<category><![CDATA[cinema]]></category>
		<category><![CDATA[coco]]></category>
		<category><![CDATA[coco avant chanel]]></category>
		<category><![CDATA[coco before channel]]></category>
		<category><![CDATA[depan]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bangkudepan.com/?p=327</guid>
		<description><![CDATA[REVIEW &#8220;COCO AVANT CHANEL&#8221; (2009)

Pictured above, is an ambitious cutie&#8230;
Do you know Coco Chanel? Nope, who is she? Malah itu jawaban yang Gue dapat waktu tanya ke salah satu teman Gue yang bisa dibilang ‘movie freak’. Yah, setidaknya jawaban itu wajar karena bagaimana pun, teman Gue itu cowok and men at my office still lets [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>REVIEW &#8220;COCO AVANT CHANEL&#8221; (2009)</strong></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-100" title="Coco Avant Chanel" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2010/02/coco1.jpg" alt="Coco Avant Chanel" width="590" height="250" /></p>
<h5>Pictured above, is an ambitious cutie&#8230;</h5>
<p><em>Do you know Coco Chanel?<strong> </strong>Nope, who is she?</em> Malah itu jawaban yang Gue dapat waktu tanya ke salah satu teman Gue yang bisa dibilang ‘<em>movie freak</em>’. Yah, setidaknya jawaban itu wajar karena bagaimana pun, teman Gue itu cowok <em>and men at my office still lets their mother take care of their “fashion”, if you can call it that! </em>(<em>Thank God the editor allows me to use an alias!</em>).<span id="more-327"></span></p>
<p>Sewaktu Gue lihat trailernya di internet, Gue selalu bilang ke diri sendiri bahwasanya wajib hukumnya nonton film ini. Kenapa? Karena dia fenomenal banget di dunia fashion. <em>She’s one of pioneers in the fashion world</em>. <em>Her life’s work defines the liberation of women</em>. Dialah wanita yang menginspirasi wanita lain untuk merasakan kebebasan di balik keanggunan. Hal inilah yang akhirnya membantu wanita untuk menghadapi era modern. (Dalam kamus Gue, artinya: pake baju aja kok repot? Yang asyik-asyik aja, asal nyaman tapi tetap anggun, itu sudah cukup, hehehe!)</p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>Film berdurasi 105 menit yang disutradarai oleh Anne Fontaine ini diangkat dari buku karya Edmonde Charles-Roux. Film ini mengisahkan tentang kisah hidup Gabrielle ‘Coco’ Chanel (Audrey Tautou, yang beken setelah bermain di film &#8220;Amélie&#8221; sebelum menjadi ikon dunia fashion abad ke-20. Awalnya Gue berharap bisa menemukan perjalanan Chanel di dunia fashion, kisah, intrik, maupun sepak terjangnya saat membangun label ini. Ternyata harapan Gue tidak terkabul karena titik berat film ini adalah seputar kepribadian dan drama percintaan Chanel dengan dua pria yang sangat memengaruhi hidupnya. Etienne Balsan (Benoît Poelvoorde) dan Alessandro Nivola (Arthur ’Boy’ Chapel). Mereka nantinya akan menjadi inspirasi dan kekuatan Chanel untuk menjadi ’seseorang’. Tapi jangan khawatir, <strong>B</strong>rea<strong>D</strong>ers… Karena film ini benar-benar layak ditonton berkat kekuatan akting Audrey Tautou. Dan tentu saja baju-baju yang indah…</p>
<blockquote><p>…women should dress for themselves and not their men, and true fashion comes from the streets, or it isn&#8217;t fashion…</p></blockquote>
<p>Walau tidak seperti yang Gue harapkan, namun film ini tetap menonjolkan kepribadian Coco yang selalu kritis dan berpikir untuk tampil beda. Chanel berusaha mengubah cara berpakaian perempuan dengan mengenalkan filosofi baru di dunia fashion.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-100" title="Coco Avant Chanel" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2010/02/coco2.jpg" alt="Coco Avant Chanel" /></p>
<h5>Oooh, a masculine mademoiselle&#8230;</h5>
<p>Lihat saja saat adegan Coco berkuda. Saat itu, umumnya wanita berkuda menggunakan gaun lengkap dengan duduk menyamping. Namun dia berani untuk mendobrak tradisi dengan memakai celana dan menunggang kuda dengan gaya pria. Walaupun gayanya dianggap aneh, namun dari situlah awal Coco berinteraksi sosial dengan golongan orang kaya.</p>
<blockquote><p>…to be different and wanting to be independent…</p></blockquote>
<p>Coco menjadi wanita simpanan Etienne Balsan, seorang playboy yang bersedia membiayai perjalanannya ke Paris dan memberi modal untuk membuka bisnis topi. Topi menjadi salah satu produk fashion yang digemari saat itu. Ketika topi dengan aksen bulu dan renda dengan warna-warna cerah banyak diproduksi, Coco malah membuat topi bahan jerami dengan aksen sederhana dan cenderung maskulin. Mengutip kata-kata Ludwig Mies van der Rohe sebagai prinsip desain minimalis dalam arsitektur, <em>Less is more… </em>enggak perlu aksesoris aneh bin rame juga bisa gaya kok! <em>Okay, by the way any busway,</em> kembali ke laBtoP…Setelah bertemu Boy (tapi bukan diperankan Onky Alexander), kehidupan Chanel mulai berubah. Boy menawarkan cinta dalam kehidupan Chanel dan bahkan rela menunjang ekspansi bisnis dari topi ke pakaian.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-100" title="Coco Avant Chanel" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2010/02/coco3.jpg" alt="Coco Avant Chanel" /></p>
<h5>May I say, your cigarette smoke smells wondrous!</h5>
<p>Salah satu kenekatan Chanel yang membuahkan tren busana di kemudian hari adalah membuat baju longgar dengan bahan jersey. Bahan ini biasanya digunakan untuk pakaian laki-laki dan harganya murah. Lihat juga aksinya saat diajak <em>dinner</em> oleh Boy. Dia memilih bahan kesukaanya dan mengenakan <em>little black</em> <em>dress</em> di pesta dansa. Longgar dan nyaman namun tetap anggun.</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-75" title="Coco Chanel (2008)" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2010/02/coco4.jpg" alt="Coco Chanel (2008)" width="200" height="296" />Masih penasaran dengan Chanel, gue sempat mencari film dengan versi berbeda berjudul Coco Chanel (2008), diperankan Barbora Bobulova (Chanel muda), Shirley MacLaine (Chanel tua), Sagamore Stevenin (Etienne) dan Olivier Sitruk (Arthur Boy Chapel). Di sini pemeran Etienne digambarkan sebagai sosok yang lebih muda dan tampan. Alur ceritanya hampir sama namun lebih detail. Tak hanya kisah percintaan namun juga perjuangan Chanel membentuk labelnya mulai dari nol (asal muasal logo Chanel dan tentu saja kisah toko topinya). Di versi menyajikan flashback kehidupan Chanel, versi tua dan muda. Menurut gue, ada baiknya untuk nonton versi ini, jadi bisa lebih ‘melek’ fashion.</p>
<p>Jadi kesimpulannya, terjun ke dunia desain fashion itu nggak mudah lho… So, bagi kalian yang sekarang masih bingung mau nampilin tren mode apa di <em>prom nite</em>, nggak ada salahnya kamu coba tonton film ini. Dijamin, <em>the other girls will want to be your BFF!</em></p>
<p><strong>Coco Avant Chanel</strong><br />
<strong>Sutradara: </strong>Anne Fontaine<br />
<strong>Penulis Naskah: </strong>Edmonde Charles-Roux (buku), Anne Fontaine<br />
<strong>Tanggal Rilis:</strong> 25 September 2009 (Amerika Serikat)<br />
<strong>Genre:</strong> Biografi, Drama<br />
<strong>Tagline:</strong> &#8220;Before she was France&#8217;s famous mademoiselle&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-258" title="3 Bangku" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/08/3-bangku.png" alt="3 Bangku" width="450" height="130" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangkudepan.com/?feed=rss2&amp;p=327</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Curious Case of Sherlock Downey Jr</title>
		<link>http://www.bangkudepan.com/?p=313</link>
		<comments>http://www.bangkudepan.com/?p=313#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 16:21:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Julius</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[bacaan]]></category>
		<category><![CDATA[bangku]]></category>
		<category><![CDATA[bangkudepan]]></category>
		<category><![CDATA[bioskop]]></category>
		<category><![CDATA[depan]]></category>
		<category><![CDATA[dinda]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[guy ritchie]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jude law]]></category>
		<category><![CDATA[julius]]></category>
		<category><![CDATA[lockstock and two smoking barrels]]></category>
		<category><![CDATA[mark strong]]></category>
		<category><![CDATA[nonton]]></category>
		<category><![CDATA[Preview]]></category>
		<category><![CDATA[rachel mcadams]]></category>
		<category><![CDATA[robert downey jr]]></category>
		<category><![CDATA[sineas]]></category>
		<category><![CDATA[sinema]]></category>
		<category><![CDATA[snatch]]></category>
		<category><![CDATA[swept]]></category>
		<category><![CDATA[teater]]></category>
		<category><![CDATA[ulasan]]></category>
		<category><![CDATA[vano]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bangkudepan.com/?p=313</guid>
		<description><![CDATA[REVIEW &#8220;SHERLOCK HOLMES&#8221; (2009)

The boys are back in town!
Sebenarnya, sudah 3 minggu terlewati sejak gue nonton film ini. Jujur saja, setelah keluar dari gedung bioskop, gue menghabiskan hari, pusing mencari jawaban atas teka-teki sinematik bertajuk: Sherlock Holmes. Tetapi datang seperti sebuah blessing in disguise, gue menunda untuk menulis ulasan ini ternyata ada berkahnya juga. Seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>REVIEW &#8220;SHERLOCK HOLMES&#8221; (2009)</strong></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-100" title="Sherlock Holmes" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2010/01/holmes1.jpg" alt="Sherlock Holmes" width="590" height="250" /></p>
<h5>The boys are back in town!</h5>
<p>Sebenarnya, sudah 3 minggu terlewati sejak gue nonton film ini. Jujur saja, setelah keluar dari gedung bioskop, gue menghabiskan hari, pusing mencari jawaban atas teka-teki sinematik bertajuk: <em>Sherlock Holmes</em>. Tetapi datang seperti sebuah <em>blessing in disguise</em>, gue menunda untuk menulis ulasan ini ternyata ada berkahnya juga. Seperti sendal jepit yang kalo dicari malah ngilang, ketika nggak dicari malah nongol didepan gue.</p>
<p><span id="more-313"></span></p>
<p><em>Aaanyway</em>&#8230; Ternyata setelah sebulan bertahan di <em>box office</em>, gue menemukan beberapa teman yang masih berminat nonton <em>flick</em> terbaru arahan Guy Ritchie ini (Snatch &#8220;<em>Fabulous</em>&#8220;, Revolver &#8220;<em>Frivolous</em>&#8220;). Iklannya di koran saja sudah segede perangko, film berkelas lainnya sudah bertaburan: Princess and the Frog, Whip It, Suster Keramas&#8230; <em>So why</em>?</p>
<p>Sutradara Inggris yang pamor lewat film-film <em>multi-storyline</em>, <em>multi-character</em> dan <em>multi-accent</em> ini justru terpilih menyutradarai evolusi terkini detektif yang beralamatkan 221B Baker Street, London itu. Bagi gue keterlibatan Ritchie bermakna ganda: di awal karir mantan momongan Madonna ini, gue sangat terkesan dengan tema cerita dan aksen khas lokal a la <em>Lock Stock and Two Smoking Barrels</em>, tapi gue kecewa sekaligus terheran-heran ketika ia menggarap sebuah komedi romantis &#8211; dengan si Ratu Pop sebagai pemeran utama &#8211; <em>Swept Away</em>. Nggak heran dong, kalau gue sempat <em>cross my fingers</em> ketika nonton trailernya beberapa bulan yang lalu, berharap Guy Ritchie nggak sedang mabuk (cinta) ketika setuju memimpin produksi <em>movie</em> ini.</p>
<p>Walaupun digarap oleh sutradara yang <em>so-so</em>, nggak bisa dipungkiri bahwa <em>star-value</em> film ini tinggi banget! Jude Law, aktor asli Inggris yang aktingnya terkenal luwes dan fleksibel mendapat peran sebagai Dr Watson. Bagi BreaDers yang pernah nonton film adaptasi Holmes lainnya, pasti tebingung-bingung dengan sosok Watson yang <em>transformed</em> menjadi sebuah <em>lean mean fighting machine</em> walau pincang dan serba nggak meyakinkan itu. Jangan khawatir BreaDers! Menurut sumber yang lumayan terpercaya, sosok Watson sebenarnya digambarkan oleh sang penulis novel, Sir Arthur Conan Doyle, ya justru yang seperti ini! <em>But what&#8217;s a movie without a Bold Beauty? Femme fatale</em> di film ini dimainkan oleh Rachel McAdams sebagai Irene Adler, kekasih Holmes yang punya kerjaan sampingan sebagai pencuri kelas dunia. BD mulai mengenal McAdams ketika sukses sebagai seorang <em>bitch</em> (*<em>pardon my French</em>*) di <em>Mean Girls</em>, lalu ketika menunjukkan kebolehannya sebagai wartawan yang <em>brainy</em> di <em>State of Play</em>. <em>This time around, I think she played a pretty convincing brainy bitch </em>(<em>*Ooh, there goes that French again*</em>)!</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-100" title="Sherlock Holmes" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2010/01/holmes2.jpg" alt="Sherlock Holmes" /></p>
<h5>You gotta be more English with your English, Robert! says Mr Director.</h5>
<p><em>The MVP of this movie is, of course, Mr Robert Downey Jr.</em> Sosok aktor yang memiliki sejarah kelam dengan narkoba kini kian digandrungi sutradara dan produser kelas kakap karena memiliki sebuah &#8220;aura gelap&#8221;; hal yang tidak dimiliki seorang <em>goody-two-shoes</em>, Tom Hanks misalnya. Kesan <em>trouble-maker </em>ini adalah sisi riil yang membuat peran Holmes sebagai <em>troubled hero</em> menjadi amat realistis. Oh yeah, dengar-dengar <em>filmmaker</em> di mana-mana berebut meng-<em>casting</em> dia untuk main di film mereka. Lalu, gue sempat berpikiran apakah Robert Downey Jr.-lah yang menarik perhatian <em>moviegoers</em> dan menjadikan Sherlock Holmes sebuah <em>box office hit?</em> Tetapi setelah <em>&#8220;a period of study&#8221; </em>(<em>Hey, we’re not some writers who read other people&#8217;s work. We’re scientist!</em>), gue berani menyimpulkan bahwa aktor yang baru saja memenangi <em>Best Performance by an Actor in a Motion Picture &#8211; Musical or Comedy </em>di Golden Globes 2010 lewat perannya di film ini, memang hebat dalam menciptakan sosok baru bagi <em>the legendary sleuth</em>. Namun Holmes yang satu ini membicarakan semua yang dia pikirkan, bak peserta kuis <em>Who Wants to Be A Millionaire </em>yang kebanyakan minum kopi. Kemudian idenya di &#8220;ping-pong-kan&#8221; kembali oleh Watson, lewat dialog yang super cepat dan tanpa jeda. Kadang-kadang, ke-super-akraban kedua karakter ini menghasilkan kesan bahwa hubungan mereka memang agak-agak <em>bromance</em> (<em>Bro-therly, ro-Mance &#8211; get it?</em>).</p>
<p><em>So, what about the story?</em> Pada pembukaan film ini, kita diperkenalkan kepada <em>villain</em> Lord Blackwood (<em>the suitable Mark Strong</em>). Selagi mempraktekkan<em> voodoo </em>ala Criss Angel, Holmes &amp; Co menggagalkan rencana &#8220;iblis&#8221;nya dan sukses menjebloskan Blackwood ke penjara untuk dihukum mati. Walaupun kepolisian London dengan bantuan Watson telah mengkonfirmasi kematiannya, Blackwood kembali dari alam kubur demi menuntaskan tujuan utamanya, <em>his grand scheme</em> untuk menguasai parlemen Inggris. <em>&#8220;A little bit too elementary eh, dear Watson?&#8221;</em> Mungkin penulis naskah Michael Robert Johnson dan Anthony Peckham nggak sengaja menciptakan sebuah cerita untuk seorang <em>Victorian era </em>James Bond! Oh <em>well</em>, tapi <em>hard-core Holmes</em> fans nggak usah khawatir, ada sebuah <em>cameo role</em> untuk seorang Profesor <em>You-Know-Who</em> dalam film ini.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-100" title="Sherlock Holmes" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2010/01/holmes3.jpg" alt="Sherlock Holmes" /></p>
<h5>Seorang pencuri di sarang penyamun?</h5>
<p>Namun seperti yang gue katakan sebelumnya, ada sesuatu yang membangunkan rasa ingin tahu para penggemar film. &#8220;<em>This movie is a must see!</em>&#8221; Kata teman gue. Kenapa? &#8220;Karena Sherlock Holmes!&#8221; <em>Spot on</em>, <em>indeed</em>! Seperti ketika pertama kali gue menangkap kabar bahwa Sam Raimi sedang menggarap film Spiderman, gue langsung penasaran. <em>I have to see it</em>. Karena Spiderman dan seperti halnya Sherlock Holmes adalah sosok yang gue kenal dan kagumi sejak muda. Seorang detektif brilian yang selalu ditantang oleh misteri-misteri seru. Apalagi dengan segala kemungkinan dan kemutakhiran dunia perfilman belakangan ini, gue mesti tau seperti apa inkarnasi Detektif Holmes yang terbaru. Bagaimana talenta-talenta perfilman menghidupkan karakter kembali dan membuatnya relevan pada isu-isu masa kini.</p>
<p>Pada akhir film, gue berani berasumsi akan ada sebuah sekuel, dan bahwa Sherlock Holmes ditakdirkan untuk menjadi sebuah movie franchise. <em>So, in terms of a longlasting-reboot franchise-to-be (thuch a thongue-thwister that!), Ritchie</em>’<em>s Holmes at least yields an interesting perspective for the bohemian-detective</em>; <em>challenging the notion that solving a puzzling mystery is a potent, and the only drug for him</em>. Kita bisa jadi nggak mendapatkan visualisasi macam ini jika baca novelnya. <em>However</em>, jika gue boleh memberikan satu buah kritik membangun, gue akan bilang: dalam segi cerita, gue mohon untuk lebih merujuk pada bukunya, <em>please! But for now, detective, the less you think about it, the better this movie gets. And I do mean that as a compliment!</em></p>
<p><strong>Sherlock Holmes</strong><br />
<strong>Sutradara:</strong> Guy Ritchie<br />
<strong>Penulis Naskah:</strong> Michael Robert Johnson dan Anthony Peckham<br />
<strong>Tanggal Rilis:</strong> 27 Desember 2009 (Indonesia)<br />
<strong>Genre:</strong> Aksi, Petualangan, Misteri<br />
<strong>Tagline:</strong> &#8220;Nothing Escapes Him&#8221;</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-258" title="3 Bangku" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/08/3-bangku.png" alt="3 Bangku" width="450" height="130" /></p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="500" height="315" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/ITU27Sxzi9w&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;rel=0&amp;color1=0x5d1719&amp;color2=0xcd311b&amp;border=1" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="500" height="315" src="http://www.youtube.com/v/ITU27Sxzi9w&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;rel=0&amp;color1=0x5d1719&amp;color2=0xcd311b&amp;border=1" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangkudepan.com/?feed=rss2&amp;p=313</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Quantum Leap: The Magic of Avatar</title>
		<link>http://www.bangkudepan.com/?p=304</link>
		<comments>http://www.bangkudepan.com/?p=304#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 11:37:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vano</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[aliens]]></category>
		<category><![CDATA[aliens of the deep]]></category>
		<category><![CDATA[avatar]]></category>
		<category><![CDATA[bangku]]></category>
		<category><![CDATA[bangkudepan]]></category>
		<category><![CDATA[bangkudepan.com]]></category>
		<category><![CDATA[depan]]></category>
		<category><![CDATA[giovanni ribisi]]></category>
		<category><![CDATA[james cameron]]></category>
		<category><![CDATA[michelle rodriguez]]></category>
		<category><![CDATA[na'vi]]></category>
		<category><![CDATA[pandora]]></category>
		<category><![CDATA[sam worthington]]></category>
		<category><![CDATA[t2]]></category>
		<category><![CDATA[terminator]]></category>
		<category><![CDATA[the abyzz]]></category>
		<category><![CDATA[unobtainium]]></category>
		<category><![CDATA[weta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bangkudepan.com/?p=304</guid>
		<description><![CDATA[REVIEW &#8220;AVATAR&#8221; (2009)

Ohhh, look at them blue monkey lovebirds&#8230;
Gue mengenal James Cameron saat menyaksikan cyborg-war flick, Terminator 2: Judgment Day. To me, at the time, melihat Robert Patrick meleleh, melengkung, menjadi ‘sesuatu’, dan membunuhi satu persatu orang di depannya lalu meniru –menyamar seperti mereka, seperti menyaksikan kartun surreal Felix The Cat, blood added. Yeah, it [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>REVIEW &#8220;AVATAR&#8221; (2009)</strong></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-100" title="James Cameron's Avatar" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/12/avatar-1.jpg" alt="James Cameron's Avatar" width="590" height="250" /></p>
<h5>Ohhh, look at them blue monkey lovebirds&#8230;</h5>
<p>Gue mengenal James Cameron saat menyaksikan <em>cyborg-war flick</em>, Terminator 2: Judgment Day. <em>To me</em>, <em>at the time</em>, melihat Robert Patrick meleleh, melengkung, menjadi ‘sesuatu’, dan membunuhi satu persatu orang di depannya lalu meniru –menyamar seperti mereka, seperti menyaksikan kartun <em>surreal</em> Felix The Cat, <em>blood added</em>. Yeah, <em>it was</em> 1997, delapan tahun setelah tayang perdana di seluruh dunia yang sempat menggegerkan industri perfilman- $102 <em>million budget in the making</em>!! Di dekade tahun 90-an, duit segitu sudah dianggap super-melimpah dan bisa untuk bikin <em>5 seasons of Baywatch</em>! Hehehe.. Oh, <em>those days were the curviest days of my life</em>.. *slurp* <em>(Gambar dan Trailer, di dalam!)</em></p>
<p><span id="more-304"></span></p>
<p><em>Where were we</em>? Oh yes, tentang T2! Jadi, si sutradara yang ternyata sudah pernah bikin produser dan rumah produksi Hollywood ketar-ketir setiap kali dia masuk ke kantor mereka dan membawa proposal film, memang sangat mahir membuat proyek dengan biaya mega-ultra-besar. Dugaan Gue terbukti saat <em>Titanic</em> muncul dan bikin <em>jaw-dropping</em> pada hampir segalanya. Skala film ini sebegitu besar, sampai-sampai Danau Kaspia –<em>the biggest lake in the world</em>- bakal luber hanya untuk menampung seluruh air mata <em>heartthrob ladies</em> di seluruh dunia saat pasrah melihat Jack Dawson perlahan-lahan tenggelam ke dasar Laut Atlantic. <em>Not to mention those dimwitted men</em> yang ikut terharu dan menambah faktor penobatan Titanic menjadi ikon drama pop terpopuler di era 1990-an. <em>Well</em>, setidaknya <em>their girlfriends</em> berhasil mengajak mereka serta menambah punda-pundi Titanic menjadi $1.8 <em>billion gross world-wide</em>. <em>Enough to build a  ship, I assume</em>?</p>
<p>Belajar dari pengalaman, tampaknya James (kembali) bercita-cita menaklukkan dunia dengan maha-karya terkininya, Avatar. <em>Check this out</em>: “<em>12 years in the making”</em>, <em>estimated budget of</em> $230 <em>million</em> – menjadikan Avatar sebagai film dengan biaya produksi termahal sepanjang sejarah dan <em>the latest technology made specifically for this film may shape the very foundation of movie-seeing experience</em>. Mau apa lagi, coba? Golden Globe <em>nominations</em>? Done! Belum apa-apa, film ini sudah mendapat empat nominasi Golden Globe, termasuk Best Director dan Best Mition Picture – Drama. Gue sampai menduga, apakah para <em>ballot voters</em> itu sudah menontonnya, ya? Atau karena terpengaruh huru-hara dengungan filmnya sendiri sejak awal tahun ini? Apa pun itu, <strong>BD</strong> punya opini tersendiri tentang film <em>sci-fi</em> ini.</p>
<p><em>F</em><em>irst of all</em>, Gue menyiapkan diri dengan menonton secara marathon, film-film James terdahulu. <em>Why</em>? Agar Gue bisa memandang objektif Avatar, <em>based on James’ previous hand-made</em>. BluRay yang Gue pilih antara lain, T2 (tentu saja!), ALIENS (this is a MUST!), The Abyss dan Aliens of The Deep. Bagi yang kurang awam dengan dua judul terakhir, itu justru genre favorit James. Dia senang dengan hal-hal misterius dan beranggapan bahwa Bumi sendiri adalah planet asing yang masih belum dijelajahi. Mengapa tidak True Lies atau malah Titanic? Jujur saja, <em>I can’t endure the torture of watching Titanic for the 5<sup>th</sup> time</em>! <em>As for</em> True Lies, <em>I don’t think it was the right time of comparing Ah’Nuld’s rock-em, bake-em mission with this one</em>. Tema-nya kan <em>sci-fi</em>, jadi harus mirip-miriplah!!</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-100" title="James Cameron's Avatar" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/12/avatar-2.jpg" alt="James Cameron's Avatar" /></p>
<h5>How did CGI become this sexy?</h5>
<p>Setelah marathon, <em>the D-day</em> akhirnya datang juga! Awalnya sempat bingung juga, karena ada pilihan 3D dan non-3D. Setelah timbang sana-sini, Gue memutuskan melihatnya <em>in 3D mode</em>. Putusan ini lebih kepada <em>pool-factor</em> bahwa Avatar – dengan teknologi 3D ter-gres-nya akan menggoyahkan iman siapa pun.. <em>I was about eager to challenge that fact</em>.</p>
<p>Setelah dua jam 40 menit, ini yang ada di pikiran Gue tentang Avatar: <em>the trailer is fun</em>, <em>but the film is a whole new experience</em>! Gue pikir, <em>3D helps a lot</em>! Walau sayangnya, Gue nggak dapat menilai lebih tentang efek 3D ini, karena ini adalah pengalaman pertama Gue. <em>Yes</em>, <em>I admit</em>, <strong>B</strong>rea<strong>D</strong>ers! <em>The only 3D film I have ever seen was Jenna Jameson Interactive 3D DVD</em>. <em>It doesn’t even require the 3D glasses</em>! <em>But</em>, TRUE, Avatar memang menaruh perhatian pada detail yang tersebar di sepanjang film. Detail lingkungan –mulai dari <em>Head-up Display</em> (HUD) yang lebih canggih ketimbang Iron Man, tapi tidak lebih keren ketimbang District 9; detail Pandora dan flora dan fauna di planet itu, hingga kehidupan manusia di sana – lengkap dengan set <em>headquarter</em> megah serta kendaraan operasional/tempur. Itu belum seberapa, James bahkan menyewa seorang profesor ahli bahasa dari University of Southern California, Paul Frommer untuk mengembangkan bahasa Na’vi, suku yang mendiami planet Pandora. Tak kurang dari 1,000 kosa kata Na’vi, termasuk gramatikal bahasa sudah dibuat oleh Paul. Seakan belum lengkap, jika WETA Digital membuat hanya SATU Gollum dengan teknologi <em>motion-capture</em>, maka di sini WETA membuat LEBIH dari satu Gollum.. err.. maksud Gue, orang Na’vi. Seperti James sendiri ujar pada suatu kesempatan, “<em>We have 1,600 shots for a 2.5 hour movie. It&#8217;s not with a single CGI character, like King Kong or Gollum. We have hundreds of photo-realistic CG characters. We were Microsoft&#8217;s sandbox for filmmaking beyond the cutting edge</em>.”</p>
<p>Gue akan menyimpan tenaga dengan tidak membahas cerita Avatar, karena <strong>B</strong>rea<strong>D</strong>ers pasti sudah tahu tentang plot yang ditulis oleh James sendiri sejak sebelum dia membuat Titanic. <em>In fact</em>, ini memang titik lemah Avatar, karena jika jeli, kita pernah melihat cerita serupa di Kevin Costner’s Dances With Wolves atau Tom Cruise’s Last Samurai. Agaknya, James pun cukup mahir dengan alur serupa karena T2 pun bercerita tentang <em>a cyborg fights his own kind</em>. <em>F</em><em>ormulaic</em> <em>though</em>, tapi tetap menggugah hati. <em>And for me, Sam Worthington plays his role just fine</em>. Sejak lihat dia di Terminator Salvation dan beberapa serial JAG, Sam memang memiliki karisma tersendiri. <em>He’s Australian to be precise</em> dan karakter Jake Sully mengingatkan Gue akan rekan senegaranya, Russel Crowe sebagai Maximus di Gladiator: seorang prajurit yang memendam penderitaannya namun tetap <em>a warrior at heart,</em> <em>despite all his weakness, as if his one destiny was to lead his flock against tyranny</em>.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-100" title="James Cameron's Avatar" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/12/avatar-3.jpg" alt="James Cameron's Avatar" /></p>
<h5>Everything&#8217;s all techy-scifi-like</h5>
<p>Satu lagi karakter dominan yang menarik mata dan hati adalah Neytiri, <em>well played by</em> Zoe Saldana. Walau dibungkus CGI setinggi tiga meter serba-biru dan berekor, bagi mata yang jeli sanggup mengenali Zoe yang pernah menjadi <em>kick-ass commander</em> Uhura di J.J. Abrams’ Star Trek. (<em>Yeah, as if you would recognise Andy Serkis as Gollum</em>!!) Neytiri tidak hanya membuat Jake jatuh cinta kepadanya, tapi juga bikin Gue jatuh cinta pada dunia Pandora yang dia kenalkan lewat tumbuhan fluorescence eksotis dan hewan super ganjil yang bisa dikendalikan lewat sejumlah syaraf/neuron yang keluar dari kepang rambut <em>alien</em> berwajah kucing ini. <em>With 3D</em>,<em> everything is so real</em>! Belalang sembah raksasa nan ganas, atau harimau bermata enam di Star Wars: Attack of The Clone menjadi tampak seperti hewan-hewan Disney. Lewat mata Neytiri juga, kita ditantang untuk berani menunggang Banshee, menjadi panik dan kalut saat diserang pasukan manusia pimpinan Col. Miles Quaritch, hingga <em>blushing</em> saat Jake menggodanya. Intinya, Neytiri adalah contoh mutakhir dan spektakuler citra emosi manusia melalui <em>software</em>. <em>I guess</em>,<em> in not-so-distant-future</em>,<em> these Gollum-like creatures will be running for Oscar© nominees</em>. <em>Beware</em> Tom Hanks, *Gollum!*-*Gollum!*</p>
<p>Tapi, serius deh, <em>guys</em>.. Neytiri, Jake Sully, Tsu’tey dan kawan-kawan merupakan <em>seeing-is-believing experience</em>. Walau sempat diperlemah dengan dialog-dialog klise a la Anakin-Padmé, tapi mata Gue enggan beranjak dari interaksi mereka. Tidak seperti film-film <em>full</em> CGI macam Beowulf atau Polar Express, di mana karakter yang tampil minim emosi dan tidak punya mimik muka bagai John Cena, James Cameron benar-benar membuktikan omongannya bahwa ia akan memanfaatkan teknologi yang dikembangkannya selama belasan tahun itu menjadi sebuah pendekatan paling canggih yang pernah ada di sejarah perfilman.</p>
<p><em>But then</em>, <em>it all comes down into 230 million Dollar question</em>: jika Avatar ditonton tanpa moda 3D, apakah kesan ini masih ada? Untuk membuktikannya, Gue berani keluar duit lagi demi <strong>B</strong>rea<strong>D</strong>ers dan menyaksikan Avatar tanpa 3D. Hasilnya? Seperti makan <em>popcorn</em> tapi lupa beli sekaleng minuman soda. <em>The adjective is</em>, <em>well</em>, ”<em>blue-in-the-face”</em>. Ambil satu contoh: perbedaan paling kentara dapat dilihat pada layar monitor hologram yang ada di ruangan utama <em>headquarter</em> milik Parker Selfridge (Giovanni Ribisi). 3D membuat layar tersebut menjadi lebih nyata dan interaktif, sementara 2D hanya membuatnya seperti HUD di <em>game</em> HALO atau Modern Warfare saja. Begitu pula seluruh lingkungan yang tadinya aktif dan menyala-nyala seakan hadir langsung di depan penonton, berubah seperti alam yang cuma bisa ditonton lewat <em>one-way-mirror</em> saja. “<em>You should see your faces</em>,” cengir Trudy dan ini membuat Gue makin kebingungan, apakah Avatar tak lebih dari pamer teknologi? Benarkah Michelle Rodriguez tidak se-seksi seperti yang terlihat lewat 3D? Atau Gue hanya kelupaan minuman soda saja?</p>
<p><em>But</em>, <em>don’t you worry me hearty</em>, karena jika <strong>B</strong>rea<strong>D</strong>ers tidak terlalu ambil pusing dengan format 3D atau 2D, maka setidaknya pilih bioskop dengan tata suara yang cukup menggelegar, gambar yang jernih serta tempat duduk yang nyaman. 2 jam 40 menit tidak sebentar, <em>mate</em>! Jika salah satu di atas tidak ada, <em>then you’d better listen to Col. Miles because you are not in Kansas anymore</em>. <em>You are in Pandora</em>!”</p>
<p><strong>Avatar</strong><br />
<strong>Sutradara:</strong>James Cameron<br />
<strong>Penulis Naskah:</strong>James Cameron<br />
<strong>Tanggal Rilis:</strong> 17 December 2009 (Indonesia)<br />
<strong>Genre:</strong> Animasi, Petualangan, Fiksi Ilmiah, Fantasi<br />
<strong>Tagline:</strong> Enter the World</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-258" title="4 Bangku" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/08/4-bangku.png" alt="4 Bangku" width="450" height="130" /></p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="500" height="315" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/5PSNL1qE6VY&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;color1=0x5d1719&amp;color2=0xcd311b&amp;border=1" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="500" height="315" src="http://www.youtube.com/v/5PSNL1qE6VY&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;color1=0x5d1719&amp;color2=0xcd311b&amp;border=1" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangkudepan.com/?feed=rss2&amp;p=304</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Enemy Spotted&#8230; Need Back Up&#8230;</title>
		<link>http://www.bangkudepan.com/?p=285</link>
		<comments>http://www.bangkudepan.com/?p=285#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 14:12:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Julius</dc:creator>
				<category><![CDATA[Preview]]></category>
		<category><![CDATA[88]]></category>
		<category><![CDATA[ace ventura]]></category>
		<category><![CDATA[anak bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[anti teror]]></category>
		<category><![CDATA[ario bayu]]></category>
		<category><![CDATA[back]]></category>
		<category><![CDATA[bangku]]></category>
		<category><![CDATA[bangkudepan]]></category>
		<category><![CDATA[bangkudepan.com]]></category>
		<category><![CDATA[densus]]></category>
		<category><![CDATA[densus 88]]></category>
		<category><![CDATA[depan]]></category>
		<category><![CDATA[detasemen 88]]></category>
		<category><![CDATA[dirty harry]]></category>
		<category><![CDATA[enemy]]></category>
		<category><![CDATA[enemy spotted]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[joko anwar]]></category>
		<category><![CDATA[kala]]></category>
		<category><![CDATA[kepolisian]]></category>
		<category><![CDATA[merah]]></category>
		<category><![CDATA[merah putih]]></category>
		<category><![CDATA[morolipi]]></category>
		<category><![CDATA[need]]></category>
		<category><![CDATA[need back up]]></category>
		<category><![CDATA[noir]]></category>
		<category><![CDATA[noordin]]></category>
		<category><![CDATA[noordin m top]]></category>
		<category><![CDATA[pintu terlarang]]></category>
		<category><![CDATA[police]]></category>
		<category><![CDATA[polisi]]></category>
		<category><![CDATA[putih]]></category>
		<category><![CDATA[republik]]></category>
		<category><![CDATA[spotted]]></category>
		<category><![CDATA[steyr aug]]></category>
		<category><![CDATA[swat]]></category>
		<category><![CDATA[teror]]></category>
		<category><![CDATA[the departed]]></category>
		<category><![CDATA[tombstone]]></category>
		<category><![CDATA[up]]></category>
		<category><![CDATA[yadi sugandi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bangkudepan.com/?p=285</guid>
		<description><![CDATA[
Code Five! Code Five! Wanted Person!
Damn! Simpang siur kepastian tewasnya Noordin M Top bener-bener bikin gue gregetan! Apalagi setelah menonton di tivi upaya heroik tim Detasemen 88 Anti Teror saat menggerebek rumah yang diduga terdapat gembong teroris paling dicari di Indonesia itu, bikin gue keburu bangga dengan kinerja Kepolisian Republik Indonesia. Tapi, lagi-lagi berita miring [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-213" title="Enemy Spotted... Need Back Up..." src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/08/densus-main.jpg" alt="Enemy Spotted... Need Back Up..." width="590" height="250" /></p>
<h5 style="text-align: left;">Code Five! Code Five! Wanted Person!</h5>
<p>Damn! Simpang siur kepastian tewasnya Noordin M Top bener-bener bikin gue gregetan! Apalagi setelah menonton di tivi upaya heroik tim Detasemen 88 Anti Teror saat menggerebek rumah yang diduga terdapat gembong teroris paling dicari di Indonesia itu, bikin gue keburu bangga dengan kinerja Kepolisian Republik Indonesia. Tapi, lagi-lagi berita miring santer terdengar kalau adegan dramatis di akhir pekan itu hanyalah sebuah rekaan belaka! Buset! gue bingung harus percaya yang mana&#8230;. <span id="more-285"></span></p>
<p>Tapi, lepas dari kontroversi yang beredar, gue tetap mengacungkan jempol dengan aksi tim elit Detasemen 88. Terutama saat mendengar penjelasan Jenderal Polisi Bambang Hendarso Dahuri yang merasa bangga dengan dedikasi anak buahnya yang tanpa lelah. Bayangin aja, ada seorang anggota Densus yang terluka dan masih diinfus, mencabut sendiri selang infusnya dan segera kembali bergabung bersama rekan-rekannya di lapangan. Belum lagi yang sempat terkena stroke karena keletihan bertugas, juga melanjutkan tugasnya walau baru pulih. Mendengar ini dan mengaitkan kesaksian Brigjen Polisi (Purn) Suryadharma saat masih menjadi komandan Densus sungguh mengobarkan semangat gue untuk&#8230; errr&#8230; bikin artikel ini!! Hehehee!!</p>
<p>Sebetulnya, dengan makin beragam dan banyaknya kisah mengenai sepak terjang polisi Indonesia, para sineas perfilman nasional bisa mulai membuat film-film tentang mereka. Sebab, jika diteliti lebih jauh (emangnya ilmuwan!), film Indonesia yang berceloteh mengenai kehidupan polisi hampir minim. Oke, mungkin gue terlalu junior untuk bilang ini, karena siapa tahu di jaman baheula, masa di mana perfilman Indonesia masih ditukangi oleh sineas macam Usmar Ismail, Djadjakusuma atau Suman Djaja sempat ada film yang gue maksud. Jadi, pengamatan gue hanya sebatas film-film keluaran tahun 2000-an. Misalnya, Bad Wolves arahan sutradara Richard Buntario yang bercerita tentang misi polisi memburu dua geng narkoba yang saling bertikai, atau The Police (minus Sting! Hehehe!) yang (kabarnya) diedarkan di tahun 2008 dan memakan biaya delapan miliar, namun sampai sekarang entah bagaimana kabarnya (atau gue yang memang nggak perhatian). Mengejar Matahari (2004) bikinan Rudi Soedjarwo juga sempat memunculkan sosok polisi pada diri karakter Ardi (Winky Wiryawan) walaupun hanya di bagian ending-nya saja.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-213" title="Detasemen 88 Anti Teror" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/08/densus-88.jpg" alt="Detasemen 88 Anti Teror" /></p>
<h5 style="text-align: center;">Spesialis Senjata dan Taktik: Detasemen 88 Anti Teror</h5>
<p>Nah, mungkin yang paling cocok disebutkan adalah Kala (2007), film noir pertama oleh Joko Anwar. Di sini, sosok polisi Eros yang diperankan oleh Ario Bayu digambarkan sebagai anti-hero; tidak jujur namun satu-satunya penegak keadilan yang bisa dipercaya (Nah lho! Bingung, kan?). Peran dia lumayan besar di film ini dan memengaruhi perkembangan kisah. Sayangnya, karena sejak awal Kala bermisi menjadi film noir, maka Joko Anwar memberikan corak karakter yang nyerempet ke film-film dark tone tersebut. Akhirnya, postur Eros pun lebih mirip polisi di New York ketimbang di negara kita. Trench coat lusuh, topi fedora dan sabuk senjata yang diikatkan di badan benar-benar membuang jauh imej polisi lokal yang selama ini dibuat stereotipe: seorang “Siap, Komandan! Laksanakan, Komandan!” yang memakai jaket kulit hitam dan bersikap kaku selayaknya kumisnya yang tebal itu (Mohon maaf, Pak Polisi!). Mungkin memang polisi seperti itu yang kerap dijumpai di polsek sewaktu mengurus Surat Keterangan Kelakuan Baik atau pas menonton kejar-kejaran antara polisi reserse dan seorang residivis maling jemuran di acaranya Bung Napi.</p>
<p>Kesan itulah – baik kesan polisi noir a la Joko dan kesan kuno a la entahlah siapa, yang hilang saat gue menyaksikan Densus 88 beraksi. Mungkin ini kesatuan berbeda; specially designed for anti-terror. Wuih! Nulisnya saja sudah bikin gue merinding! Ibaratnya: Keren gituh! Kalau sudah pernah main Counter Strike, yah kira-kira seperti itu deh.. Mengendap-endap di belakang teroris dengan Steyr AUG kaliber 5.56mm, sementara seorang partner di samping kanan kita bersiaga sambil mengacungkan handgun Fiveseven dan membuat barikade menggunakan ballistic shield. Berdebar-debar rasarnya! Eits, nanti dulu ! gue bukan war-junkie atau penggila hal-hal yang berbau militer dan senjata. Hanya saja, bagi gue, sudah saatnya postur polisi di Indonesia berubah. Sudah bukan jamannya lagi polisi bersosok buncit dan selalu tergopoh-gopoh datang ke lokasi saat penjahatnya sudah keburu keok oleh jagoannya. Densus memberi arti baru, yakni polisi-lah yang memroses dan menindas si penjahat! The bomb has been defused gitu loh! Sayangnya, mengapa masih belum ada sineas yang berani membuat film polisi yang lebih humanis? Rasa-rasanya, alasan bahwa polisi ingin menjaga kesan baik-baik di mata masyarakat sudah tidak valid lagi. Justru, jika masyarakat bisa memahami polisi secara manusiawi, niscaya banyak orang yang bangga mengenakan seragam coklat itu dan menegakkan keadilan. Jreng! Bukan bernada promosi, nieh! Melirik dari negeri Paman Sam, film-film bertemakan polisi, sheriff, deputy, agent, atau apa pun namanya, selalu mendapat tempat di hati. Mulai dari yang bersemangat gebuk penjahat dulu baru interogasi seperti Dirty Harry (1971), penuh intrik dan drama seperti The Departed (2006), yang gaib nan ajaib seperti Ace Ventura (1994) hingga sekelompok cowboy gagah berani di The Tombstone (1993), industri film Paman Sam tampaknya tak pernah kehabisan ide untuk menceritakan pahlawan-pahlawan mereka.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-213" title="Tu... Wa... Ga" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/08/densus-mp-1.jpg" alt="Tu... Wa... Ga" /></p>
<h5 style="text-align: center;">Tu&#8230; Wa&#8230; Ga *Ngos&#8230; Ngos&#8230;&#8221;</h5>
<p>Oke, balik lagi ke laptop&#8230; 13 Agustus ini, sinema Indonesia bakal diwarnai oleh konten yang cukup segar walau bukan yang pertama kalinya; film perang. Merah Putih, sebuah epik yang sedianya direncanakan untuk trilogi ini sebetulnya bisa menjadi batu penjuru buat sineas yang lain agar berani mengambil langkah serupa yang sudah dilakukan sutradaranya, Yadi Sugandi. Sudah banyak diberitakan bahwa film berbujet besar ini memakai tenaga profesional yang diimpor langsung dari Hollywood untuk memoles Merah Putih menjadi film perang yang mendekati real. Efek ledakan, make-up, senjata, bahkan tank sempat gue lihat di trailernya. Tentu, untuk membuat sebuah film tentang polisi, tak melulu membutuhkan semua atribut di atas serta dana gila-gilaan. Minimal, Merah Putih menjadi pionir yang baik mengenai bagaimana (sineas) film lokal tak malu belajar dari (sineas) film luar.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-213" title="Demi negara! (dan wanita...?)" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/08/densus-mp-2.jpg" alt="Demi negara! (dan wanita...?)" /></p>
<h5 style="text-align: center;">Demi negara! (dan wanita&#8230;?)</h5>
<p>Penayangan penggerebekan teroris di Temanggung yang diliput secara live oleh wartawan media massa sebenarnya membawa babak baru bagi ‘pengadeganan’ sebuah aksi yang dilakukan oleh polisi Indonesia. Jauh sebelum itu &#8211; tepatnya di tahun 2005, media massa juga sempat menyiarkan secara eksklusif saat pasukan yang sama mencoba menangkap gembong teroris Dr. Azahari di Batu, Malang, namun harus berakhir dengan baku tembak dan ledakan yang menewaskan ahli bom itu. Gambar-gambar itu –terlepas apakah itu hanya rekayasa atau bukan – minimal bisa menginspirasi seseorang (baca: filmmaker, lho! – bukan bakal teroris) untuk mereka-ulang insiden yang menghebohkan tadi. Unsur-unsur intelijen yang membangun ketegangan saat mengejar pelaku teror seperti di Munich (2005) hingga pelaksanaan penangkapan pelaku seperti di *errr*&#8230;. yah, seperti yang kita lihat pagi itu di seluruh stasiun televisi nasional kita. Nggak ada yang lebih meyakinkan selain menonton sebuah rumah sederhana di sebuah dusun terpencil didekati robot morolipi v1.0, lalu tiba-tiba beralih ke ‘adegan’ lain di mana bom meledak di dalam rumah itu serta menggetarkan dinding dan atapnya. Dahsyat!</p>
<p>gue berharap, suatu hari nanti akan ada karya film yang diinspirasi oleh peristiwa ini, yang bisa memberikan inspirasi balik kepada penontonnya. Agar suatu saat nanti, profesi polisi sebagai pengayom dan pelindung masyarakat mendapat tempat yang layak di negara ini. Semoga&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangkudepan.com/?feed=rss2&amp;p=285</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merajut Kain Warna Warni</title>
		<link>http://www.bangkudepan.com/?p=267</link>
		<comments>http://www.bangkudepan.com/?p=267#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 19:57:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dinda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[alvinta hersyanto purba]]></category>
		<category><![CDATA[anak bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[ariane alana]]></category>
		<category><![CDATA[bangku]]></category>
		<category><![CDATA[bangkudepan]]></category>
		<category><![CDATA[bangkudepan.com]]></category>
		<category><![CDATA[blitz megaplex]]></category>
		<category><![CDATA[depan]]></category>
		<category><![CDATA[diaz hendrassukma]]></category>
		<category><![CDATA[dipa sitepu]]></category>
		<category><![CDATA[drama]]></category>
		<category><![CDATA[ida bagus charisma]]></category>
		<category><![CDATA[kain warna warni]]></category>
		<category><![CDATA[la tessa dwadiandra]]></category>
		<category><![CDATA[mya amelia fauza]]></category>
		<category><![CDATA[nara nugroho]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[pradnya paramita]]></category>
		<category><![CDATA[review kain warna warni]]></category>
		<category><![CDATA[sharifa alia husin]]></category>
		<category><![CDATA[teh o ais]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bangkudepan.com/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[REVIEW &#8220;KAIN WARNA WARNI&#8221; (2009)

Kain Warna-Warni: Ke Gunung atau Pantai?
Yipeeeyyy&#8230; Akhirnya, selama sekian tahun menunggu (bercanda, eh!) akhirnya gue bisa ikut premiere pertama dalam hidup gue. Thanks to Teh O Ais Production yang telah mengundang kami untuk menyaksikan karya film berdurasi panjang pertama mereka, Kain Warna Warni. Begitu tiba di Blitz Megaplex Grand Indonesia, kesan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>REVIEW &#8220;KAIN WARNA WARNI&#8221; (2009)</strong></p>
<p><img class="size-full wp-image-213" title="Kain Warna Warni" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/08/kww-review.jpg" alt="Kain Warna Warni" width="590" height="250" /></p>
<h5 style="text-align: left;">Kain Warna-Warni: Ke Gunung atau Pantai?</h5>
<p>Yipeeeyyy&#8230; Akhirnya, selama sekian tahun menunggu (bercanda, eh!) akhirnya gue bisa ikut premiere pertama dalam hidup gue. Thanks to Teh O Ais Production yang telah mengundang kami untuk menyaksikan karya film berdurasi panjang pertama mereka, Kain Warna Warni. Begitu tiba di Blitz Megaplex Grand Indonesia, kesan gue adalah: Swell! Buanyak banget orang yang hadir.. Sampai-sampai gue berpikir kalau gue menghadiri premiere Daster Kuntilanak atau Kursi Goyang Genderuwo.. (Hahahahaaa..!*Peace*)<span id="more-267"></span></p>
<p>Eh, kejutannya nggak berhenti sampai di situ, lho. Begitu sampai, gue langsung disambut rekan-rekan dari Teh O Ais yang sedang jaga booth penukaran tiket. Mereka memberikan gue satu goody bag dengan isi penuh pernak-pernik Lim Kok Wing Unversity. Agak bingung juga sih, kenapa justru merchandize dari kampus yang mereka kasih, instead of pin Kain Warna-Warni atau T-Shirt Teh O Ais. Mungkin kalau ini yang mereka kasih, bakal gue pakai malam itu juga! Hehehe&#8230; Yah, pesan sponsor memang nggak boleh dilupakan sih. Eits, nanti dulu! Kebingungan gue langsung sirna sewaktu membaca Press Release yang diikat rapih dengan sebuah pita. Tadinya, gue pikir press release ini hanya berupa intro reguler yang biasa gue baca. Ternyata, kali ini lebih istimewa karena nama Bangku Depan dicantumkan oleh mereka sebagai media yang mendukung pemutaran Kain Warna-Warni! Wedew, gue langsung telepon Vano dan bilang ke dia bahwa kami harus segera buat T-Shirt sebagai identitas atau minimal ID Card biar mirip jurnalis partikelir gitu&#8230; *grin* Thanks to Teh O Ais sekali lagi yang bermurah hati mempublikasikan kami!</p>
<p>Oke, now let’s buzz about the movie. Intro Kain Warna Warni dibuka dengan sebuah buku harian yang mengisahkan sekelumit kehidupan tiga cewek dan satu cowok (what a lucky dude): Kirana (Syafira Alia Husin) sesosok gadis melankolis yang gemar menulis, Bella (Mya Amelia Fauza) yang agak gamang dan semenjana, Danur (Alvinta Hersyanto Purba) si cowok yang setia kawan tapi sedikit gokil alias nyeleneh dan nggak jelas, serta yang terakhir Lana (La Tessa Dwadiandra) sang tomboy yang teriakannya paling keras di antara yang lain (but, believe me all the guys out there, if you meet her, you’ll love her). Mereka berempat diceritakan hendak berlibur dan muncullah pertanyaan paling jamak yang bakal kita dengar setiap kali mau bepergian: ke gunung atau ke pantai? Nyatanya, pilihan ini memberikan dua buah alternatif konsekuensi yang bakal mereka hadapi. Gampangnya, kalau loe nggak baca tulisan ini sekarang, loe pasti sedang melakukan sesuatu yang lain. Dan apa pun yang loe lakukan tadi, akan membawa loe ke kejadian berikutnya. “One action leads to another,” ujar Diaz Hendrassukma, salah satu penulis naskah film ini yang dijumpai di sela-sela pertunjukkan. Jadi, bagi penonton yang waktu itu ikut melihat filmnya tapi masih belum paham jalan ceritanya, I recommend you to buy the DVD. Heheheee&#8230;</p>
<p>Sebagai informasi, sebetulnya film ini merupakan dua plot cerita yang digabung menjadi satu jalinan kisah. Sebagai sineas pemula, nyatanya memang tak gampang memadukan cerita yang berbeda setting dan dramalurgi ini. Akhirnya, pengorbanan pun dilakukan. Setting pantai yang menjadi kisah pertama tampak berjalan limbung dan lambat. Konflik yang dihadirkan adalah pertemanan dan persahabatan, sebuah isu umum yang pasti bakal hadir jika menyangkut film-film seperti ini. Dialog yang menyitir makna friendship semacam, “Sahabat itu nggak boleh minta, bolehnya kasih,” tampak seperti aturan baku yang harus dipatuhi oleh setiap filmmaker mana pun. Tapi, kejutan menanti di akhir kisah ini. Sebuah hubungan yang unik mulai hinggap di antara mereka dan reaksi hubungan antar-teman yang rumit lumayan enak disimak. Endingnya <em>sih</em> nggak terlalu menggigit dan berakhir terlalu cepat namun sebetulnya memberikan peluang untuk membuka cerita selanjutnya. No, I’m not gonna spoil the cliffhanger, tapi bisa gue pastikan bahwa petualangan seru mereka di pantai tidak berakhir bahagia.</p>
<p>Lain ladang, lain belalang. Beda setting, beda pula konflik yang meruncing. Gunung memancing imaji yang berbeda dengan pantai. “Kami memang sengaja merapatkan emosi dan tekanan cerita di cerita di (lokasi) gunung,” jelas Diaz lagi. Dan benar, penulis skenario keroyokan yang terdiri dari Nara Nugroho, Ariane Alana dan Pradnya Paramita serta Diaz sendiri bisa dibilang berhasil membawa tone cerita seperti kabut yang turun perlahan di tepi tebing; tebal dan lebat di malam hari yang bisa menyesatkan orang di dalamnya, namun menipis di kala fajar yang memberikan kesegaran dan kehidupan baru. Wah, gue nggak bermaksud berpuitis dan sok romantis nieh, tapi memang bobot drama lebih kental terasa di semi-episode yang kedua ini. Apalagi, konflik yang hadir lebih kompleks. Nggak cuma persahabatan mereka saja yang terancam bubar, namun justru perselisihan yang terjadi di antara mereka menjadi penguji kerekatan satu sama lain. Satu lagi, emosi penonton lebih dikuras terutama saat Danur dan Kirana bersitegang akibat sebuah kesalahan fatal. Di sini, Kain Warna Warni bercerita logis: People make mistakes, who doesn’t? But how far will you let your friends drown in their mistakes? Kelebihan yang ditonjolkan di kisah yang kedua ini adalah bagaimana all the casts sanggup bermain natural dan wajar. Two thumbs up buat Syafira Alia dan Alvinta Purba yang bermain dinamis dan kompak di sini, setelah sebelumnya performa mereka ‘tenggelam’ di pasir pantai.</p>
<p>Di penghujung kisah, satu momen mengharukan membungkam seisi ruangan audiotorium Blitz berkapasitas 500 tempat duduk yang hampir penuh terisi itu (well, kecuali untuk deret bangku yang diperuntukkan oleh media dan malah hanya gue yang duduk di sana). Klimaks yang ditata rapi dan sempat membuat gue larut dalam emosi sayangnya hanya bertahan sebentar. Endingnya lagi-lagi terlampau singkat dan terburu-buru. Padahal, timing-nya sudah pas banget dan pemainnya juga sudah all-out. Apalagi skenario ini melibatkan hidup dan mati yang menentukan nasib salah seorang dari mereka. Tapi tak apalah. Setidaknya, Kain Warna Warni cukup pintar dengan tidak terjebak dalam kisah tragis yang cengeng namun sebaliknya, justru memperlihatkan ketegaran para tokoh yang terlibat dalam memandang kehidupan pada bingkai persahabatan walau diancam kematian (Lengkap deh!).</p>
<p>Overall, gue cukup salut dengan Kain Warna Warni yang memilih sebuah drama sebagai base kisah. Ini sebetulnya tantangan besar buat mereka karena memang terbukti tak mudah. “Jujur saja, kami memang sedikit mengalami kesulitan saat melakukan editing untuk setting di pantai, karena mood yang dibangun memang lebih pelan ketimbang lokasi di gunung,” kata Diaz. Beberapa inkonsistensi juga sempat tampak, seperti misalnya Kirana yang tampak tak bisa lepas dari buku jurnalnya saat setting di gunung, hampir tidak memegang bukunya itu saat mereka di pantai. Secara teknis, Kain Warna Warni masih mengalami problem (mata gue sempat pegal dengan gambar yang buram – apa karena gue diberi tempat duduk paling depan, ya?), namun tingkat kesulitan yang mereka lewati barusan menjadikan kru Teh O Ais memasuki level berikutnya. Seperti yang dituturkan Nara Nugroho, penulis naskah yang baru berusia 17 tahun ini, “Sekarang, Teh O Ais sudah melewati ini (penayangan perdana). Berikutnya, film baru di Indonesia!” Diaz menambahkan, “Saat ini, kami tengah menikmati masa-masa kami dan hanya ingin merayakan keberhasilan kami.” Yep, they deserve it.</p>
<p>Satu hal yang gue soroti sepanjang film adalah soundtrack Kain Warna Warni yang sangat easy-listening. Sayang beribu sayang, gue tidak sempat menikmati suguhan secara langsung yang dibawakan oleh Parisude, entah itu grup band atau nama seorang vokalis sewaktu mereka menghibur para penonton di Blitz. Aransemen akustik yang nyaman dan tenang cukup pas dimainkan oleh mereka di dua setting yang berbeda. Asyiknya, trak-trak yang ada tidak mencoba mengalahkan adegan filmnya itu sendiri, namun tetap menjadi pendamping yang apik. Kalau mereka ke Indonesia, boleh dong Bangku Depan mendapat CD-nya (ngarep mode: on)..</p>
<p>Menyaksikan antusiasme dan semangat dari penonton yang menyesakki lobby utama Blitz malam itu benar-benar membuat gue terperangah, betapa besar kekuatan anak-anak muda ini (sok tua nih gue&#8230;) dan seharusnya menjadi modal kekuatan kebangkitan sinema Indonesia yang sudah mulai masuk ke titik jenuh dengan karya-karya yang banyak namun bermutu rendah. Regenerasi itu penting dan di pundak merekalah, masa depan perfilman nasional kita akan berevolusi. Hanya satu kalimat yang bisa gue ucapkan ke mereka, “May the force be with you.”</p>
<p><strong>Kain Warna Warni</strong><br />
<strong>Sutradara:</strong> Ida Bagus Charisma, Dipa Sitepu<br />
<strong>Penulis Naskah:</strong> Nara Nugroho, Ariane Alana, Pradnya Paramita, Diaz Hendrassukma<br />
<strong>Pemain:</strong> Alvinta Hersyanto Purba, Sharifa Alia Husin, Mya Amelia Fauza, La Tessa Dwadiandra<br />
<strong>Tanggal Rilis:</strong> 28 Juli 2009 (Jakarta)<br />
<strong>Genre:</strong> Drama, Perjalanan<br />
<strong>Tagline:</strong> Itulah Pilihan, Seperti Halnya Kehidupan</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-258" title="3 Bangku" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/08/3-bangku.png" alt="3 Bangku" width="450" height="130" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangkudepan.com/?feed=rss2&amp;p=267</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semarak Ponyo, di Atas Tebing, di Tepi Laut</title>
		<link>http://www.bangkudepan.com/?p=248</link>
		<comments>http://www.bangkudepan.com/?p=248#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 11:43:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vano</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[bangku]]></category>
		<category><![CDATA[bangkudepan]]></category>
		<category><![CDATA[bangkudepan.com]]></category>
		<category><![CDATA[depan]]></category>
		<category><![CDATA[Disney]]></category>
		<category><![CDATA[gake no ue no ponyo]]></category>
		<category><![CDATA[ghibli]]></category>
		<category><![CDATA[gran mamare]]></category>
		<category><![CDATA[hayao miyazaki]]></category>
		<category><![CDATA[hiroki doi]]></category>
		<category><![CDATA[john lasseter]]></category>
		<category><![CDATA[joji tokoro]]></category>
		<category><![CDATA[kazushige nagashima]]></category>
		<category><![CDATA[laputa castle in the sky]]></category>
		<category><![CDATA[nausicaa of the valley of wing]]></category>
		<category><![CDATA[pixar]]></category>
		<category><![CDATA[ponyo]]></category>
		<category><![CDATA[ponyo on a cliff by the sea]]></category>
		<category><![CDATA[porco rosso]]></category>
		<category><![CDATA[princess mononoke]]></category>
		<category><![CDATA[sosuke]]></category>
		<category><![CDATA[spritited away]]></category>
		<category><![CDATA[studio ghibli]]></category>
		<category><![CDATA[tomoko yamaguchi]]></category>
		<category><![CDATA[yuria nara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bangkudepan.com/?p=248</guid>
		<description><![CDATA[REVIEW &#8220;PONYO ON A CLIFF, BY THE SEA&#8221; (2008)

Ponyo dan adik-adiknya: Pernah lihat ikan berwajah manusia dan berambut merah seperti ini?
I am proud to present my first movie review for BangkuDepan.com. This review is especially A-W-E-S-O-M-E for me karena film yang akan gue review adalah besutan salah satu sutradara favorit gue, Hayao Miyazaki. Sebenarnya, sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>REVIEW &#8220;PONYO ON A CLIFF, BY THE SEA&#8221; (2008)</strong></p>
<p><img class="size-full wp-image-213" title="Ponyo on A Cliff by the Sea" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/08/ponyo-main.jpg" alt="Ponyo on A Cliff by the Sea" width="590" height="250" /></p>
<h5 style="text-align: left;">Ponyo dan adik-adiknya: Pernah lihat ikan berwajah manusia dan berambut merah seperti ini?</h5>
<p>I am proud to present my first movie review for BangkuDepan.com. This review is especially A-W-E-S-O-M-E for me karena film yang akan gue review adalah besutan salah satu sutradara favorit gue, Hayao Miyazaki. Sebenarnya, sebuah kompetisi kecil terjadi ketika memutuskan siapa yang pantas untuk menulis ulasan film Ponyo. Pertama, sebuah persetujuan dibentuk untuk tidak menggunakan kata ‘lucu’ dalam tulisan ini. Diam-diam, Julius, who is sucker for cartoon, mundur dengan sendirinya. Lalu terjadi sebuah tanya-jawab untuk menentukan &#8220;Who&#8217;s a bigger Ghibli fan?&#8221; Naturally, I (me, Vano) would get the most points and win it! Anyway&#8230;.<span id="more-248"></span></p>
<p>Let&#8217;s begin with the most basic question: &#8220;Siapa sih yang disebut-sebut sebagai anime-master ini?&#8221; Bagi yang belum kenal Hayao Miyazaki (yikes!), dia adalah sineas berusia 68 tahun asal Jepang yang terkenal lewat film-film animasi garapannya. Karya-karya awalnya seperti Nausicaä of the Valley of the Wind (1984) dan Laputa: Castle in the Sky (1986) telah melegenda dan amat dicintai di negara asalnya. Tetapi ketika film Spirited Away (2001) memenangi Academy Award untuk kategori Best Animated Feature, nama Miyazaki melambung tinggi dan ia pun mulai dikenal di seluruh dunia. Sejumlah seniman, penulis, sineas film dan animasi unggulan seperti John Lasseter, chief creative officer dari Pixar, bahkan menganggap Miyazaki sebagai sosok yang berpengaruh besar pada diri dan karyanya.</p>
<p>Enough about the filmmaker, so what is this movie all about? In short, Ponyo, yang berjudul lengkap Ponyo on the Cliff by the Sea (atau yang fasih bahasa Jepang, dibaca Gake no ue no Ponyo), dibuka dengan sebuah montase indah menggambarkan maraknya kehidupan bawah laut. Dari plankton kecil hingga ikan hiu raksasa berenang melingkari sebuah kapal selam aneh, seakan terhipnotis oleh seorang lelaki berpakaian rockstar tahun 80-an (I&#8217;m not kidding!) yang sedang melakukan sebuah eksperimen. Sementara itu, seekor ikan kecil berwajah imut dan berambut merah (fish? hair?) kabur dari kapal selam tersebut dan mengapung ke permukaan laut &#8216;menumpang&#8217; seekor ubur-ubur. Malang, ikan kecil ini tertimpa masalah setibanya di pantai, tetapi ia berhasil diselamatkan oleh seorang bocah laki-laki bernama Sosuke (suara oleh Hiroki Doi). Ikan kecil itu pun dinamakannya Ponyo (Yuria Nara) dan mereka menjadi teman baik. Sempat merasakan darah manusia (horror banget ya!) saat menyembuhkan luka Sosuke, Ponyo yang memiliki kekuatan sihir ini pun lama-kelamaan ingin menjadi seorang manusia.</p>
<p>Hold on just a second! Seekor ikan yang ingin menjadi manusia? Think you&#8217;ve heard that before? Mungkin karena film ini memang meminjam premisnya dari cerita klasik karangan Hans Christian Anderson, The Little Mermaid. Tetapi Ponyo adalah The Little Mermaid yang banyak dimodifikasi; moral ceritanya sama, tetapi dunia dan karakternya khas Miyazaki. Lisa (Tomoko Yamaguchi), ibu Sosuke, adalah karakter khas Ghibli (studio animasi milik Miyazaki), seorang wanita muda yang tegas dan berani. Karakter yang berparas mirip Hakku dalam Spirited Away ini berani melewati jalan yang nyaris ditelan ombak tsunami demi ibu-ibu lansia asuhannya. Kôichi (Kazushige Nagashima), ayah Sosuke, adalah seorang kapten kapal yang jarang di rumah dan sering berkomunikasi dengan anaknya dari kapalnya menggunakan kode morse. Fujimoto (Jôji Tokoro), sang underwater rockstar, adalah ayah Ponyo, seorang penyihir yang bercita-cita mengembalikan kejayaan makhluk bawah laut dengan cairan-cairan ajaibnya. Ketika Ponyo mulai berubah menjadi manusia, Fujimoto menggunakan kekuatan sihirnya untuk mengubah sang anak kembali menjadi ikan. Tindakan ini bukannya meredam keinginan Ponyo menjadi manusia, tetapi malah membuat ia memorakporandakan rumah si rocker gaib ini, sekaligus merusak rencana Fujimoto yang akan mengganggu keseimbangan alam. Sang ayah yang kebingungan pun menyerah dan mencari ibu Ponyo, seorang dewi laut bernama Gran Mamare, untuk meminta nasihatnya. Gue sampai berpikir, sepertinya hanya tokoh-tokoh Alice in Wonderland yang sanggup menandingi karakter-karakter yang aneh ini.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-213" title="Ponyo dalam wujud anak perempuan" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/08/ponyo-three.jpg" alt="Ponyo dalam wujud anak perempuan" /></p>
<h5 style="text-align: center;">Ponyo yang berwujud anak perempuan akhirnya bertemu Sosuke</h5>
<p>Walau kental nuansa fantasi-nya, plot dalam film Ponyo mengutamakan interaksi kedua tokoh utamanya. Tawa Sosuke saat bertemu Ponyo untuk pertama kalinya, dan ketika ia menangis saat Ponyo diklaim kembali oleh ayahnya, adalah beberapa adegan yang tidak mudah dilupakan. Terlebih ketika Miyazaki secara sengaja menyelipkan saat-saat tenang atau &#8220;quiet moments&#8221; setelah adegan tersebut, memberi waktu kepada penonton untuk benar-benar meresapi emosi sang karakter. Sebenarnya, istilah “quiet moments” pernah digunakan John Lasseter untuk menjelaskan teknik khas yang digunakan Miyazaki pada semua filmnya. “He celebrates the quiet moments,” kata John, dan itu membuatnya “one of the most original filmmakers ever&#8221;. Tidak hanya pada adegan dramatis, Miyazaki juga berhasil menggambarkan kebahagiaan pengalaman &#8220;first-time&#8221; lewat karakter Ponyo. Seekor ikan mas kecil yang berubah menjadi seorang anak perempuan pun tak habis gembiranya saat pertama kalinya menyeruput teh madu dan menyantap ramen bertopping ham. &#8220;Mmmmm, ham!&#8221; ujarnya ceria.</p>
<p>Ponyo dengan apik menggambarkan interaksi di antara dua keluarga berbeda dunia ini. Lisa yang meninggalkan Sosuke di tengan badai, hingga ia kebingungan mencari ibunya. Fujimoto yang tak mengerti apa yang mesti ia lakukan kepada anak perempuannya yang mulai berubah menjadi manusia. Masalah-masalah tersebut adalah benang merah sekaligus tema utama dalam film ini. Kekeluargaan, in a nutshell, needs a balancing act. Ketika satu orang tua tidak dapat menyelesaikan sebuah masalah, menjadi tanggung jawab orang tua satunya untuk membantu menyelesaikannya. Drama keluarga ini berjalan tanpa struktur atau formula film Hollywood sehingga penonton yang terbiasa menonton film Disney akan merasa cara bertutur film ini agak aneh. Contohnya, pada adegan badai besar, Koichi, ayah Sosuke, seperti menghilang dari peredaran. Sesekali ditampilkan hanya untuk menunjukkan kejadian aneh yang terjadi di laut lepas. In Hollywood talk, they&#8217;re called &#8216;plotholes&#8217;, tetapi dalam film ini lubang plot tersebut tidak menjadi gangguan, tetapi menjadi sebuah ciri khas yang menegaskan posisi Miyazaki sebagai seorang &#8220;independent filmmaker&#8221;.</p>
<p>Omong-omong soal teknis, sebagai penikmat animasi, gue merasa benar-benar dimanja ketika menonton Ponyo. Sejak film ini masih pada tahap awal, Miyazaki mengindikasikan bahwa ia akan mengambil rute berbeda dalam menggarap animasi dalam film terbarunya. Ternyata, jauh berbeda mungkin tidak, tetapi subtle differences memang terlihat bahwa Miyazaki kali ini tidak terlalu berlembur pada detail-detail di background-nya seperti pada Princess Mononoke (1997) atau Spirited Away (2001), tetapi dia berkonsentrasi lebih pada gerakan animasi. Perbedaan ini nyata terlihat pada animasi ombak yang bergerak sangat realistis dan betapa banyaknya makhluk laut yang tampil bergerak hanya dalam satu adegan. Karena rute baru tersebut, Ponyo, yang kira-kira mengambil waktu yang sama antara adegan bawah laut dan di daratan, terlihat sangat hidup. Apalagi didukung score oleh Joe Hisaishi yang spot on, mengiringi kehidupan tepi pantai dengan nuansa musik yang simple yet catchy.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-213" title="Ponyo dan Sosuke" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/08/ponyo-two.jpg" alt="Ponyo dan Sosuke" /></p>
<h5 style="text-align: center;">Ponyo dan Sosuke: imajinasi tanpa batas</h5>
<p>Dalam sebuah adegan penting di film ini, sebuah tsunami besar menghantam daratan dan tidak ada seorang pun yang cedera. Yang terjadi malah sebuah perbandingan visual (juxtapose) yang menarik, menghasilkan komposisi yang aneh namun indah, di mana makhluk laut berkeliaran di halaman depan rumah dan jalan beraspal seperti layaknya manusia. Pada saat-saat seperti itu, insting orang dewasa akan mulai bertanya-tanya, &#8220;bagaimana bisa?&#8221; Tetapi khalayak sasaran film ini akan tetap duduk di bangkunya, terpesona dengan gambar-gambar imaginatif yang fantastis, membiarkan diri terbuai oleh dongeng dan jatuh cinta dengan karakter-karakternya. It can&#8217;t get any better than this.</p>
<p><strong>Ponyo on the Cliff by the Sea (Gake no ue no Ponyo)</strong><br />
<strong>Sutradara:</strong> Hayao Miyazaki<br />
<strong>Penulis Naskah:</strong> Hayao Miyazaki<br />
<strong>Tanggal Rilis:</strong> 19 Juli 2008 (Jepang)<br />
<strong>Genre:</strong> Animasi, Petualangan, Keluarga, Fantasi<br />
<strong>Tagline:</strong> Welcome To A World Where Anything Is Possible</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-258" title="4 Bangku" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/08/4-bangku.png" alt="4 Bangku" width="450" height="130" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangkudepan.com/?feed=rss2&amp;p=248</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manisnya Kain Warna Warni (Part 2)</title>
		<link>http://www.bangkudepan.com/?p=204</link>
		<comments>http://www.bangkudepan.com/?p=204#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 11:11:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vano</dc:creator>
				<category><![CDATA[Preview]]></category>
		<category><![CDATA[anak bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[berita film]]></category>
		<category><![CDATA[blitz megaplex]]></category>
		<category><![CDATA[dimas rizki]]></category>
		<category><![CDATA[film indie]]></category>
		<category><![CDATA[film indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[film lokal]]></category>
		<category><![CDATA[ichuy pexi]]></category>
		<category><![CDATA[ida bagus charisma]]></category>
		<category><![CDATA[indie]]></category>
		<category><![CDATA[kain warna warni]]></category>
		<category><![CDATA[la tessa dwadiandra]]></category>
		<category><![CDATA[limkokwing]]></category>
		<category><![CDATA[limkokwing university]]></category>
		<category><![CDATA[low budget]]></category>
		<category><![CDATA[shandy yuliandri]]></category>
		<category><![CDATA[teh o ais]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bangkudepan.com/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[
Apakah itu Indonesia?
Bujet Vs. Indie
Kalau bicara film indie, maka kita bicara bujet. Film Indie begitu populer di dunia karena semangat yang diusungnya bersahaja (baca: low cost budget) tapi memiliki dominasi cerita dan plot yang nggak kalah hebat ketimbang film-film berbiaya besar yang dirilis oleh PH besar. Bahkan, tak jarang bakat-bakat besar muncul dari area yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-213" title="Apakah itu Indonesia?" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/07/kww-poster.jpg" alt="Poster Kain Warna Warni" width="590" height="250" /></p>
<h5 style="text-align: left;">Apakah itu Indonesia?</h5>
<h3>Bujet Vs. Indie</h3>
<p>Kalau bicara film indie, maka kita bicara bujet. Film Indie begitu populer di dunia karena semangat yang diusungnya bersahaja (baca: low cost budget) tapi memiliki dominasi cerita dan plot yang nggak kalah hebat ketimbang film-film berbiaya besar yang dirilis oleh PH besar. Bahkan, tak jarang bakat-bakat besar muncul dari area yang nyaris luput dari perhatian luas ini. Apa pun itu, dunia perfilman indie di Indonesia sayangnya hanya melihat faktor bujet saja. Jika sudah menggelontorkan dana besar untuk film kecil, maka bisa dianggap tidak indie lagi. Padahal, kata indie atau independen sebenarnya menyiratkan bahwa film tersebut didanai sendiri, tanpa bantuan pihak-pihak lain (atau label besar) sebagai promotor.<br />
<span id="more-204"></span><br />
Kain Warna Warni, menurut pengakuan Ichuy didanai oleh tabungan mereka sendiri. Film ini memakan bujet sekitar 15,000 Ringgit Malaysia atau sekitar 45 juta rupiah. Ichuy bilang, “Duit ini hasil nabung, lho! Kami benar-benar menyisihkan uang kami untuk proyek ini.” Iya deh! Kami tetap setuju kok, kalau ini diklaim sebagai film indie. Walau bujetnya terdengar besar, KWW masih disyuting menggunakan perlengkapan hasil pinjaman pihak kampus. “Kamera, tripod, boomer, semua kami pinjam dari universitas,” aku Dimas. Wah, seandainya kampus Gue pinjemin kamera digital Hi-Def, mungkin sudah laku dilelang di e-bay!!</p>
<p>Lupakan indie atau tidak, yang terpenting bagi muda-mudi ini adalah bagaimana apresiasi penonton setelah menyaksikan film ini. Trailernya diputar pertama kali tanggal 5 April 2009 di acara MOZAIC Indonesia 2009, sebuah pagelaran seni dan budaya dari Merah Putih Club yang mempertunjukkan kebolehan para mahasiswa Indonesia. Saat itu, KWW disaksikan oleh 400 siswa internasional dan nasional. Sambutannya? “Meriah banget!” kata mereka kompak. Kata Charis, “Ada yang langsung mengajak kerja sama bareng dan sebagainya. Mereka bukan mahasiswa asal Indonesia, lho. Jadi, kami bangga karya kami diakui oleh mereka.” Trailernya sendiri sudah dapat disaksikan melalui blog mereka: <a title="Blog Kain Warna Warni" href="http://kainwarnawarni.blogspot.com" target="_blank">http://kainwarnawarni.blogspot.com</a>. Pertama kali melihat trailer-nya, BangkuDepan merasa tertarik dengan Kirana, tapi sayang, kami tak menemuinya hari itu. Oh! Of course, we are more than pleased to see the movie!</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-213" title="Mya Amelia" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/07/kww-talent.jpg" alt="Mya Amelia" width="300" height="420" /></p>
<h5 style="text-align: center;">Mya Amelia Fauza, pemeran Bella di Kain Warna Warni</h5>
<p>But, itu bukan masalah bagi kami, karena mungkin Kirana akan hadir saat pemutaran perdana Kain Warna Warni di Blitz Megaplex mulai 28 – 30 Juli 2009 pukul 19.30 WIB. Mengapa di Blitz? “Karena Blitz cukup mendukung pada karya-karya indie. Mereka aware dengan industri ini,” jelas Charis tanpa bermaksud promosi. Diputarnya KWW di Blitz memberi arti baru bagi seluruh kru Teh O Ais Production dan dunia sinema amatir Indonesia. Seandainya Blitz dan lainnya mulai serius melirik mereka, BangkuDepan yakin akan muncul sineas berbakat yang saat ini sedang bokek tapi penuh ide brilian untuk dijadikan film. All they need is a place where people can sit down and watch their movie. Itu pula yang diutarakan Charis dan rekan-rekannya, “Kami ingin agar orang menonton film ini, kami ingin agar film kami mendapat masukan, kritikan, atau opini apa pun yang sekiranya jadi input buat kami.” Ya iyalah, menembus Blitz juga butuh kerja keras. Apalagi, tim ini sama sekali awam dengan industri film nasional saat baru tiba di tanah air. Mereka harus membuat jejaring baru terhadap para pelaku industri, mulai dari mengajukan copy film ke Lembaga Sensor Film hingga mencari PH lokal berbadan hukum yang mau menggawangi film KWW agar bisa diputar di teater Indonesia. Starting from scratch, itulah yang mereka lakukan. “Kami harus cari informasi sana-sini, berhubungan dengan PH lokal hingga badan film negara seperti sensor tadi. Pokoknya, dari nggak tahu apa-apa sampai akhirnya bisa tembus ini, adalah buah kerja keras kami,” ungkap Charis.</p>
<p>“Tak lupa, kami berterima kasih pada Intimasi Production yang menjadi wadah kami saat menawarkan film ini kemana-mana,” sambungnya. Intimasi Production adalah PH yang pernah memproduksi film “Mereka Bilang Saya Monyet!” garapan Djenar Maesa Ayu.</p>
<h3>Indonesia: Here We Come!</h3>
<p>Saat BangkuDepan berkunjung ke sana, tim kompak ini sedang memotong-motong tiket untuk dibagikan ke beberapa kampus yang akan mereka kunjungi.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-213" title="Tiket Kain Warna Warni" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/07/kww-tiket1.jpg" alt="Tiket Kain Warna Warni" width="450" height="271" /></p>
<h5 style="text-align: center;">Tiket Warna Warni: Mau?</h5>
<p>Rencana promonya ingin seperti apa sih?</p>
<p>“Kami berminat keliling ke kampus-kampus dan promo di radio-radio agar KWW bisa dikenal lebih luas,” jawab Ichuy. Bahkan, mereka tampaknya serius untuk memutar film ini di Blitz Megaplex di Bandung. Namun, sebelum ke sana, mereka ingin sekali mengikutsertakan karya perdana berdurasi 95 menit ini ke dalam festival film.</p>
<p>Seakan mimpi itu belum habis, mereka masih ingin meneruskan karya-karyanya. “Dari awal, kami bercita-cita untuk membuat film dengan tema Indonesia. Kami ingin bikin film tentang Majapahit!” seru mereka.</p>
<p>Wah! Butuh bujet banyak dong! “Ya, kami harus membuat proposal yang menarik agar ada investor mau membiayai film kami,” kata Ichuy.</p>
<p>Oke deh! Kayaknya, invasi generasi Y seperti mereka bakalan menarik disimak ketimbang menonton trilogi Pocong yang mulai kehabisan kain kafan untuk difilmkan. Indie atau bukan, tidak jadi masalah. Asal kerja keras dan ide brilian selalu ada, niscaya film bagus akan mewarnai bioskop-bioskop kita nantinya.</p>
<p>Sssttt!! Kabarnya, mereka membuka kesempatan bagi siapa pun yang ingin mewujudkan mimpinya sebagai film-maker namun bingung harus kemana, lho! Jadi, siapa tahu kamu yang jago akting, jago menulis naskah hingga jago pegang boomer bisa ikutan gabung atau sekedar cari ilmu di Teh O Ais Production!</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-213" title="Teh O Ais" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/07/kww-cameraman.jpg" alt="Teh O Ais" width="300" height="420" /></p>
<p>Untuk sementara, Bangku Depan mempersembahkan trailer Kain Warna Warni. Enjoy!</p>
<p><object width="500" height="405" data="http://www.youtube.com/v/OhrNeHqUNag&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;color1=0x5d1719&amp;color2=0xcd311b&amp;border=1" type="application/x-shockwave-flash"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/OhrNeHqUNag&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;color1=0x5d1719&amp;color2=0xcd311b&amp;border=1" /><param name="allowfullscreen" value="true" /></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangkudepan.com/?feed=rss2&amp;p=204</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manisnya Kain Warna Warni (Part 1)</title>
		<link>http://www.bangkudepan.com/?p=202</link>
		<comments>http://www.bangkudepan.com/?p=202#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 10:52:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vano</dc:creator>
				<category><![CDATA[Preview]]></category>
		<category><![CDATA[anak bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[berita film]]></category>
		<category><![CDATA[blitz megaplex]]></category>
		<category><![CDATA[dimas rizki]]></category>
		<category><![CDATA[film indie]]></category>
		<category><![CDATA[film indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[film lokal]]></category>
		<category><![CDATA[ichuy pexi]]></category>
		<category><![CDATA[ida bagus charisma]]></category>
		<category><![CDATA[indie]]></category>
		<category><![CDATA[kain warna warni]]></category>
		<category><![CDATA[la tessa dwadiandra]]></category>
		<category><![CDATA[limkokwing]]></category>
		<category><![CDATA[limkokwing university]]></category>
		<category><![CDATA[low budget]]></category>
		<category><![CDATA[shandy yuliandri]]></category>
		<category><![CDATA[teh o ais]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bangkudepan.com/?p=202</guid>
		<description><![CDATA[
Teh O Ais Production: di mana es teh manisnya?
A close friend of mine once told me, “A good movie is 1% brilliant idea and 99% hard-work.” Sebetulnya sih, pesan itu ditujukan ke Gue waktu kami bercita-cita untuk mengerjakan sebuah proyek film yang hingga kini tertunda (Hehehe! Sorry, bung Jul!) But, let&#8217;s not talk about me, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-100" title="Beberapa Anggota Teh O Ais Production" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/07/kww-main.jpg" alt="Beberapa Anggota Teh O Ais Production" width="590" height="250" /></p>
<h5>Teh O Ais Production: di mana es teh manisnya?</h5>
<p>A close friend of mine once told me, “A good movie is 1% brilliant idea and 99% hard-work.” Sebetulnya sih, pesan itu ditujukan ke Gue waktu kami bercita-cita untuk mengerjakan sebuah proyek film yang hingga kini tertunda (Hehehe! Sorry, bung Jul!) But, let&#8217;s not talk about me, but rather feast our eyes on these lads who are finally ready to reveal themselves, fresh from their nesting ground. Ya, sekelompok mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang kuliah di Malaysia sungguh-sungguh menerjemahkan pesan tadi, setidaknya itu yang tampak di mata kami &#8211; para redaksi BangkuDepan saat berkunjung ke sebuah rumah sekaligus base camp mereka di bilangan Jakarta Selatan, Sabtu (18/7) lalu. Kami berdiskusi mengenai film paling gres kreasi para pelajar itu, yakni Kain Warna Warni (KWW &#8211; bukan dibaca KWalitas Wuantap, ya?), ambisi mereka di perfilman nasional, dan tentu saja, proses mewujudkan ambisi tadi menjadi kenyataan.<br />
<span id="more-202"></span></p>
<h3>Teh Manis Production</h3>
<p>Tersebutlah Teh O Ais Production, rumah produksi yang diciptakan oleh komunitas pecinta film di bawah perkumpulan mahasiswa Indonesia bernama Merah Putih Club yang menuai ilmu di Limkokwing University, Malaysia. For those who don&#8217;t speak Malay, Teh &#8216;O&#8217; Ais diambil dari nama minuman segar yang sangat familiar di negara kita: es teh manis. Bagi kita, minuman ini hanya bernilai 2500 perak. Bagi mereka, priceless. Nama ini menjadi sumber inspirasi untuk membuat film-film &#8216;rasa&#8217; lokal alias Indonesia yang bisa cocok oleh lidah mana pun (meminjam bahasa Akang Bondan, “Pokoknya, maknyus!”).</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-213" title="Limkokwing University" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/07/kww-limkokwing.jpg" alt="Limkokwing University" width="450" height="294" /></p>
<p>Pemuda-pemudi yang mempelopori berdirinya PH ini tahun 2007 sebetulnya sudah mulai menargetkan diri untuk bikin film feature berdurasi panjang. Now that&#8217;s what I call: driven by a purpose! Maka, mereka mulai membuat proyek-proyek film berdurasi pendek untuk melatih diri sekaligus mengetahui sampai sejauh mana kesiapan sineas muda ini dalam membuat film yang lebih panjang dan baik dari segi kualitas. “Setiap kali kami mau bikin film (durasi) panjang, kami selalu bertanya ke masing-masing anggota, &#8216;Kita sudah siap atau belum?&#8217; Dan kalau jawabannya belum siap, kami balik lagi ke pembuatan film (durasi) pendek. Begitu terus, sampai kami menemukan timing yang pas untuk lanjut ke proses berikutnya,” jelas Ida Bagus Charisma atau yang akrab dipanggil Charis, sang sutradara KWW. “Kami melakukan rotasi tugas ke seluruh kru yang terlibat agar mereka tahu setiap peran dan posisi yang ada di balik proses produksi film. Dengan begini, kami bisa tahu apakah kami siap untuk lanjut ke proyek yang lebih besar atau tidak,” lanjutnya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-213" title="Shandy Yuliandri" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/07/kww-president.jpg" alt="Shandy Yuliandri" width="450" height="293" /></p>
<h5 style="text-align: center;">Shandy Yuliandri (kiri), presiden Teh O Ais Production</h5>
<p>Tapi, jangan kira bahwa PH ini hanya berhenti di film panjang lalu berakhir begitu saja. “Kami ingin agar  Teh O Ais Production dapat berdiri di Indonesia dan membuat film di sini,” ujar Shandy Yuliandri, presiden  Teh O Ais Production. “Selama ini, kami berkiprah di Malaysia. Kami ingin membuat film-film kami tentang Indonesia di negara ini,” lanjutnya bersemangat. Mimpi yang panjang tapi patut ditunggu kelanjutannya.</p>
<h3>“Syuting? Syusah!”</h3>
<p>“Kain Warna Warni dibuat hanya dalam 10 hari..” Kalimat pertama dari Ichuy Pexi, dara manis yang menjadi produser KWW tadi membuat tim BangkuDepan terperanjat. Untung dia buru-buru klarifikasi. “Maksud Gue, shooting-nya 10 hari, tapi pra dan post produksi memakan waktu lebih dari itu,” terang Ichuy dan tentu saja, kami tidak keberatan dengan itu. Charis menambahkan bahwa lamanya membuat film tadi telah ditentukan karena sebagian kru dan pemain akan segera lulus kuliah dan kembali ke tanah air. Ini adalah malapetaka buat tim produksi. Namun untungnya, dengan usaha keras mereka, pengambilan gambar dapat berjalan tepat waktu. “Saking mepetnya, kami harus menginap di lokasi syuting demi menghemat waktu. Karena set-nya di daerah gunung, kami bahkan mencari villa dan bermalam di sana selama lima hari. Lalu, kami kembali lagi ke kota dan tidak sempat istirahat, kami harus melanjutkan syuting lagi di daerah pantai selama dua hari. Sisanya dilakukan di jalan dekat kampus. Capek gara-gara kejar tayang, tapi fun!” kata Ichuy yang cihuy ini.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-213" title="Ichuy Pexi" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/07/kww-producer.jpg" alt="Ichuy Pexi" width="450" height="294" /></p>
<h5 style="text-align: center;">Ichuy Pexi, produser Kain Warna Warni</h5>
<p>Memboyong tim dengan segala atributnya diakui Ichuy tidak mudah. Apalagi, komplain sana-sini dari kru mulai berhamburan segera setelah syuting berjalan beberapa hari. “Biasalah, kalau bad mood dan rasa capek sudah datang, kami harus pintar-pintar atur waktu agar syuting jadi efektif. Syuting itu susah, karena kami harus menyesuaikan banyak hal; anggaran, waktu, talent-nya, macam-macam. Kami sekalian belajar di sini karena (membuat film) nggak gampang dan nggak bisa memilih waktu. (Kalau) tiba-tiba hujan syuting tetap jalan,” tutur Charis. Uniknya, ada beberapa adegan yang harus diambil diam-diam karena memang mereka tidak mendapat izin dari pengelola setempat untuk melakukan syuting. “Kalau ada kesempatan, kami ambil gambar. Untungnya aman dan nggak ada gangguan,” sambung Dimas Rizki, asisten sutradara sekaligus editor KWW.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-213" title="Charis" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/07/kww-director.jpg" alt="Charis" width="450" height="300" /></p>
<h5 style="text-align: center;">Ida Bagus Charisma, sutradara Kain Warna Warni</h5>
<p>Kendati repot, namun jangan bayangkan bahwa seluruh kru dan talent tanpa persiapan sama sekali. Justru mereka telah ready sejak jauh-jauh hari pengambilan gambar. Kisah empat orang sekawan asal Indonesia yang memutuskan untuk berlibur di pantai dan gunung ini sudah dikonsep sejak lama. Awalnya, para anggota Teh O Ais Production memiliki ide-ide cerita pendek. Ide itu antara lain cerpen yang mengambil lokasi di gunung dan pantai. Ragam ide ini lalu digabungkan dan berbuah Kain Warna Warni, yang menurut sang sutradara, “Adalah film dengan dua plot menjadi satu.”</p>
<p>Casting pemain juga tak main-main. Mereka secara sungguh-sungguh memperlakukan rekrutmen pemain secara profesional. Pencarian bakat bahkan dilakukan hingga ke luar kampus Lim Kok Wing karena talent yang ada memang tidak memenuhi kriteria. Saat casting, setiap calon yang melamar diminta untuk membacakan skrip. Wah, kalau ini direkam, bisa menjadi fitur keren di DVD nih! Proses pembentukan karakter pun tidak sebentar. Bongkar pasang antara karakter yang satu dengan pemain yang lain dilakukan saat casting. Apalagi saat reading (proses dialog antar pemain sebelum melakukan pengambilan gambar), langsung ketahuan siapa cocok melakoni apa. Reading ini pula yang membikin para pemain mengenal satu sama lain dan menyelami karakter tokohnya. La Tessa Dwadiandra, salah satu cast mengutarakan bagaimana ia bisa membawa hobinya, Lomography (open your wikipedia, people! I&#8217;m not going to dive in this word!) menjadi bagian dari karakter tokoh Lana, sementara Sharifa Alia yang memang gemar menulis diperbolehkan oleh casting director dan penulis naskah menumpahkan uneg-unegnya ke atas buku tulis sebagai trait dari Kirana. “Keputusannya sambil jalan aja. Karena emang Gue doyan lomo, lalu dibawa pas syuting, menurut kami &#8216;Kenapa (hobi lomo) nggak dimasukkin aja ke dalam film?&#8217; Lalu oleh sutradara dianggap tidak mengganggu keseluruhan jalan cerita, maka jadi deh, karakter Lana menyukai Lomo,” kata Tessa yang tampak jauh berbeda dari teaser trailernya kalau bertemu langsung. Sekali lagi, kami tidak keberatan dengan itu..</p>
<h5>(bersambung di Part 2)</h5>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-213" title="La Tessa Dwadiandra" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/07/kww-tessa.jpg" alt="La Tessa Dwadiandra" width="450" height="271" /></p>
<h5 style="text-align: center;">La Tessa Dwadiandra (depan) sebagai Lana di Kain Warna Warni</h5>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangkudepan.com/?feed=rss2&amp;p=202</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Soft Target, High Profile, Deep Impact</title>
		<link>http://www.bangkudepan.com/?p=187</link>
		<comments>http://www.bangkudepan.com/?p=187#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 10:11:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Julius</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>
		<category><![CDATA[Black Hawk Down]]></category>
		<category><![CDATA[Bom]]></category>
		<category><![CDATA[J.W. Marriot]]></category>
		<category><![CDATA[Jurrasic Park]]></category>
		<category><![CDATA[Ritz-Carlton]]></category>
		<category><![CDATA[Saving Private Ryan]]></category>
		<category><![CDATA[The Peacemaker]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bangkudepan.com/?p=187</guid>
		<description><![CDATA[
Jumat pagi, 17 Juli 2009 dimulai seperti hari-hari lain pada umumnya. Pekan ini akan diakhiri dengan libur panjang karena Senin, 20 Juli adalah tanggal merah. So, everybody in this city would be thinking exactly as I was: the weekend is going to be s-w-e-e-t! The workload would be much, much lighter dan bubaran kerja bakalan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-100" title="Freaky Friday" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/07/bomb-bourne.jpg" alt="Freaky Friday" width="590" height="250" /></p>
<p>Jumat pagi, 17 Juli 2009 dimulai seperti hari-hari lain pada umumnya. Pekan ini akan diakhiri dengan libur panjang karena Senin, 20 Juli adalah tanggal merah. So, everybody in this city would be thinking exactly as I was: the weekend is going to be s-w-e-e-t! The workload would be much, much lighter dan bubaran kerja bakalan nge-date bareng pacar!<span id="more-187"></span></p>
<p>Tapi, tunggu dulu! Hari yang indah nggak bakal lengkap tanpa bubur ayam langganan Gue. There&#8217;s always time for a nice, hot <em>buryam</em>. Dan di situlah Gue; duduk di pinggir trotoar di seberang Mall Ambassador untuk menikmati sarapan pagi sebelum menuju ke kantor yang lokasinya nggak terlalu jauh dari sana. Sekitar 300-an langkah dari hot-spot Gue sekarang ini.</p>
<p>“Pesan satu, Pak!” ujar Gue ke penjual bubur ayam. Tak sampai dua menit, semangkuk panas bubur dicampur suiran ayam dengan kacang kedelai dan taburan kerupuk pun sudah di tangan Gue. Diiringi gerombolan karyawan yang hiruk pikuk menuju <em>cubicle</em> yang menanti mereka, Gue sesekali melirik ke jam tangan. Oh! Jam 7.46! Sial, Gue lupa kalau ada materi presentasi yang harus disiapkan sebelum jam 8 pagi. Gue buru-buru membayar buryam tadi dan melesat menuju kawasan Mega Kuningan.</p>
<p>Semenit kemudian, terdengarlah suara itu.. Suara yang nggak bakal Gue lupakan seumur hidup&#8230;</p>
<p>Pikiran Gue seketika hang dan flash back saat Gue gemetar menyaksikan teror T-Rex dengan dentumannya yang keras dan menggetarkan segelas air di dashboard mobil. Momen Jurrasic Park (1993) itu benar-benar terbawa kembali saat Gue mendengar sekilas seperti suara guntur di kejauhan tadi.</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-197" title="Bom Mega Kuningan" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/07/bomb-scene1.jpg" alt="Bom Mega Kuningan" width="288" height="205" />Tak lama setelah suara tadi, Gue melihat kepulan asap putih dari balik gedung sebuah menara. Deg! Jantung ini berhenti rasanya! Asap itu lalu melingkar mengangkasa dan menyelimuti seluruh area di sana. Seperti melihat adegan sebuah film bencana, dari jarak jauh Gue melihat beberapa orang, sebagian berlari dan sebagian memakai motor, menuju ke arah sumber suara dan asap tadi. They&#8217;re in panic mode, and I can see that!</p>
<p>Oh, Tuhan! Apa lagi kali ini?</p>
<p>Gue pun mengayunkan langkah lebih cepat. Adrenalin di tubuh Gue tiba-tiba terpacu hingga ke batas kepala dan menyuruh Gue untuk, “Lari ke sana! Lihat apa yang terjadi!” Tapi sebagian akal sehat Gue menahan, “Tunggu dulu! Stay away from trouble! You have a presentation to prepare!” Gue nggak tahu apa yang mencekcoki pikiran Gue, tapi Gue tetap memiih ke sana. Maybe I&#8217;m like those people who just couldn&#8217;t stay away from trouble. Seperti Jack Bauer di 24 yang terus mengundang masalah ketimbang menyelesaikannya. Apa pun itu, the images I was about to see were far more horrific than what I had in mind.</p>
<p>Di ujung bundaran Mega, Gue berbelok ke kiri dan menyaksikan samar-samar di balik asap yang masih menebal di sekitar lokasi. “Astaga! Itu J.W. Marriot! Jangan-jangan&#8230;?” Gue nggak berani menyelesaikan kalimat ini. Pokoknya, lari ke sana dan usahakan tidak bersikap ceroboh.</p>
<p>“Bom!” teriak seorang pemuda sambil berlari mendahului Gue, lalu menghilang di balik asap. Kata itu: BOM. Tidak ada kata yang lebih menakutkan dan menggetarkan nyali Gue selain kata BOM. Lutut Gue lemas dan kepala Gue berdenyut-denyut, but as a wise man once told me, “When you are so afraid, the fear will start to take control.” Gue lagi-lagi mengabaikan itu semua dan herannya menyusul orang tadi menembus asap putih nan pekat.</p>
<p>Horor yang sebenarnya ada di balik sana..</p>
<p>Baru saja Gue menembus kabut asap, terlihat seorang pria mengenakan kemeja putih berlari ke arah Gue. Dia berhambur keluar dari arah lokasi parkir hotel J.W. Sebercak noda merah membekas di bagian lengan kanan atas pria itu. Itu noda darah! Tapi, bukan itu yang Gue masih ingat sampai sekarang, melainkan raut wajahnya! Mimik muka yang ketakutan dan terancam! Kalau Gue bukan Julius, mungkin Gue akan shock dan mengurungkan niat untuk melangkah lebih jauh lagi karena melihat dampak teror lewat sorot mata orang lain. Those eyes still haunts me, even to this day&#8230;</p>
<p>10 menit berselang, suara ledakan yang lebih keras dari arah hotel Ritz-Carlton terdengar. Semua orang menunduk dan beberapa kocar-kacir ke segala arah. Situasinya sudah seperti di tengah perang! It was like someone threw a grenade at you or a tank shot a mortar at us and hit the building. I was afraid and it would be foolish if I weren&#8217;t. Kemudian, terdengar seseorang berteriak, “Ritz! Ritz juga kena!” Ini gila! Entah kenapa, Gue berpikiran bahwa Jakarta sedang diserang. Peristiwa Teror Mumbai, India beberapa waktu lalu menghantui benak Gue. Apakah Gue akan jadi korban? Apakah dua ledakan ini hanyalah awal dari serangan bersenjata yang lebih menyeramkan? Haruskah Gue melarikan diri?</p>
<p>Belum selesai Gue berpikir, sesosok pria warga negara asing, paruh baya dengan tanpa selembar helai benang di tubuhnya kecuali celana compang-camping, ditandu oleh beberapa orang ke salah satu sudut trotoar. Kepalanya terluka, terbuka lebar. Darah mengucur dari sana-sini dan Gue melihat jelas kepingan-kepingan logam menancap di tubuhnya. Gue nggak perlu menceritakan detailnya di sini. Gue bergidik ngeri dan menjadi mual karena rasa takut yang terlampau besar. Padahal, Gue menggemari film aksi dengan darah. Sewaktu korban berjatuhan karena bom atau tembakan di Saving Private Ryan (1998) atau Black Hawk Down (2002), Gue berpikir, “Cool!” tanpa menyadari betapa mengerikannya hal itu kalau melihat sendiri.</p>
<p>Semua orang berlarian kesana-kemari dan nggak tahu siapa harus melakukan apa. Asap kian menipis dan Gue bisa melihat lebih jelas sekarang. Seorang wanita asing berlari keluar dari arah hotel dan seorang lagi menangis histeris sambil menggendong anak kecil. Gue nggak tahu apakah mereka terluka atau tidak. Beberapa petugas keamanan mencoba masuk ke dalam lokasi hotel J.W., tapi dicegah oleh seorang rekannya. “Nanti dulu! Belum aman! Mungkin ada ledakan susulan&#8230;” teriaknya yang malah membuat panik orang-orang di sekitarnya.</p>
<p>Gue sungguh nggak tahu apa yang harus diperbuat! Gue panik dan bingung&#8230;. Sampai akhirnya sebuah tepukan keras di pundak Gue menyadarkan lamunan Gue. “Ayo!” ajak seorang pemuda yang  berlari dari belakang Gue ke arah parkiran hotel J.W. Dari seragamnya, Gue tahu bahwa dia seorang petugas keamanan hotel. Tanpa berpikir dua kali, Gue mengikuti orang itu dan menembus sekawanan orang yang justru berlari ke arah berlawanan. Gue nggak tahu apa yang bakal Gue lakukan atau temui di dalam sana, tapi belum sempat masuk lebih jauh, pemuda tadi sudah keluar dengan memapah korban yang terluka parah di kakinya. Tanpa perintah, Gue ikut membantu mereka hingga ke trotoar terluar. Dan begitu seterusnya.. Gue bolak-balik membawa seseorang yang terluka dari dalam ke luar. Bantuan dari orang-orang sekitar pada yang terluka pun seadanya. Hanya berbekal kapas dan beberapa kain, mereka mencoba sebisa dan sekeras mungkin untuk menahan luka-luka yang masih terbuka.</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-198" title="Bom Mega Kuningan" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/07/bomb-scene2.jpg" alt="Bom Mega Kuningan" width="288" height="205" />Bau anyir tercium jelas, menghantam kepala Gue hingga pusing. Salut bagi orang-orang itu yang menghalau rasa takut mereka untuk menolong para korban. Bahkan, beberapa supir ojek yang biasa mangkal di sekitar lokasi itu langsung menawarkan diri untuk mondar-mandir mengantarkan korban ke rumah sakit terdekat. Begitu juga taksi, bahkan kendaraan bak terbuka datang silih berganti membawa yang terluka. Butuh waktu beberapa menit untuk melihat polisi berada di lokasi kejadian. Itu pun setelah beberapa korban yang terluka parah sudah dibawa menuju rumah sakit. Gue nggak mau komentar tentang yang satu ini, namun pagi ini, di tempat ini, Mega Kuningan mendadak menyerupai Jalur Gaza yang baru saja dihantam roket.</p>
<p>Hampir dua jam Gue nggak beranjak dari sana. Presentasi yang ada di tas Gue sudah terlupakan. Baju Gue kusut masai, bercak darah di mana-mana. Kotor, lusuh dan mulai bau anyir. Gue nggak mungkin masuk kantor dengan keadaan begini. Tersengal, Gue lalu berjalan menjauh ke salah satu sudut lapangan. Gue mengambil telepon seluler dari kantong celana dan menelepon keluarga dan pacar Gue, just to let them know that I&#8217;m okay, and that there&#8217;s nothing to worry about. Click! Gue memutus telepon dan memandang dari kejauhan, teror macam apa yang baru saja Gue lalui. Lapangan di belakang Gue mulai penuh dengan penduduk, pekerja kantoran, petugas keamanan, sebagian wartawan dan rombongan tim gegana. Ada yang sibuk merekam kejadian menggunakan telepon selulernya, ada yang berteriak-teriak memberi komando kepada orang lain, ada yang sibuk menenangkan mereka yang histeris dan masih shock, bahkan ada yang berdiri pasif sambil menyalakan batang rokok, seakan menonton sebuah peristiwa kecelakaan biasa.</p>
<p>Kelelahan, Gue jatuh terduduk di tepi lapangan itu. And tears start falling from my eyes&#8230; Kepala Gue tertunduk dan entah mengapa, Gue terisak. Gue jadi ingat saat seorang pria menangis sambil berteriak histeris di dekat pria asing yang berdarah-darah tanpa pakaian tadi.. Ya, Gue beruntung bisa menahan emosi Gue saat semuanya terjadi. Tapi kini, Gue paham mengapa dia bereaksi seperti itu. Ketakutan dan tragedi yang kami hadapi di tempat kejadian saat itu benar-benar meruntuhkan mental kami, seperti bangunan yang luluh lantak dihantam bom itu. The emotion was so overwhelming, sampai dada Gue sesak dipenuhi banyak perasaan: kecewa, dendam, takut, amarah, murka, ngeri.. My presence on that day created a hole in my chest, and I&#8217;m afraid that it won&#8217;t heal for a long, long time.</p>
<blockquote><p>Anehnya, pada saat yang sama, Gue juga menyadari bahwa peristiwa ini terjadi karena suatu alasan. That maybe, I can understand the kind of pain that would drive them to do such a thing.</p></blockquote>
<p>Anehnya, pada saat yang sama, Gue juga menyadari bahwa peristiwa ini terjadi karena suatu alasan. That maybe, I can understand the kind of pain that would drive them to do such a thing. Kita tidak pernah atau jarang melihat dari sisi sang pelaku, seperti yang ditampilkan di The Peacemaker (1997). Di film itu, kekecewaan seorang ayah dari putri yang tewas karena ledakan bom memotivasinya untuk mengambil hulu ledak nuklir dan berencana merobohkan gedung PBB, New York beserta isinya. Mungkin, itu pula yang melandasi perilaku keji ini: bahwa jauh di lubuk hati mereka, tertanam perasaan kecewa, amarah dan penderitaan. These emotions transformed them into a powerful and deadly weapon, and they have full intention of using it against their enemies. Their enemies however&#8230; are unfortunately as innocent as they were.</p>
<p>I looked at my watch again. Jam 10.30. Gue bangkit dan mencoba untuk tidak terlalu tampak cengeng di hadapan banyak orang. Dengan langkah gontai, Gue berjalan menyusuri trotoar. Kali ini, beberapa ambulance sudah tampak di lokasi. Jadi, kehadiran Gue sudah cukup. Tim medis itu pasti lebih tahu apa yang mereka lakukan untuk penanganan korban ketimbang Gue yang amatir ini. Dan sepertinya, kekacauan tidak lebih parah ketimbang dua jam pertama setelah ledakan di Ritz tadi.</p>
<p>So, I walked into my building. Penjaga keamanan gedung berhamburan menghampiri Gue, menanyakan apakah Gue termasuk salah satu korban karena mereka melihat begitu banyak noda darah di baju Gue. Tanpa menjawab, Gue buru-buru ke kantor Gue dan langsung berbelok arah ke toilet untuk membersihkan wajah dan badan, walau ala kadarnya. Selama lima menit di dalam toilet itu, Gue masih bisa mendengar jeritan minta tolong, darah yang menggenang di trotoar, suara gemuruh ledakan, asap yang mengaburkan pandangan hingga bau anyir yang pekat. Gue cepat-cepat menyeka wajah untuk menghilangkan pikiran tadi, walau sirene ambulan dan polisi masih terdengar sayup dari sini.</p>
<p>Yep, sekarang Gue sudah lumayan rapih. Kalau boss bertanya apa yang telah Gue lakukan seharian ini, dia bisa melihat buktinya dari baju Gue yang kotor. Gue pun melangkah mantap keluar dari toilet.</p>
<p>Setibanya di depan pintu kantor, sebuah papan pengumuman tergantung di sana.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>OUR OFFICE IS TEMPORARILY CLOSED DUE TO CURRENT EVENT AND WILL OPEN ON TUESDAY, 21 JULY 2009. APOLOGIZE FOR THE INCONVENIENCE MAY CAUSED AND THANK YOU FOR YOUR KIND ATTENTION </strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>-Management-</strong></p>
<p>Sial!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangkudepan.com/?feed=rss2&amp;p=187</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bridget Jones is Back, Baby!</title>
		<link>http://www.bangkudepan.com/?p=174</link>
		<comments>http://www.bangkudepan.com/?p=174#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 19:29:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dinda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[bridget jones]]></category>
		<category><![CDATA[bridget jones diary]]></category>
		<category><![CDATA[colin firth]]></category>
		<category><![CDATA[helen fielding]]></category>
		<category><![CDATA[renee zellweger]]></category>
		<category><![CDATA[working title]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bangkudepan.com/?p=174</guid>
		<description><![CDATA[
Renée Zellweger, Colin Firth dan Hugh Grant dalam Bridget Jones&#8217;s Diary  (toutlecine.com)
Hi to all of you sexy single ladies! Gue nggak bisa menahan kegembiraan untuk kasih tahu ke kalian bahwa: The ultimate diary-writing, can-do-it-all, is back!
Perusahaan film Working Title mengkonfirmasi bahwa mereka sedang menggarap film ke-3 dari seri Bridget Jones yang dibintangi Renée Zellweger. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-100" title="Noah Ringer sebagai Aang" src="http://www.bangkudepan.com/wp-content/uploads/2009/07/bridget-jones.jpg" alt="Bridget Jones's Diary" width="590" height="250" /></p>
<h5>Renée Zellweger, Colin Firth dan Hugh Grant dalam Bridget Jones&#8217;s Diary  (toutlecine.com)</h5>
<p>Hi to all of you sexy single ladies! Gue nggak bisa menahan kegembiraan untuk kasih tahu ke kalian bahwa: The ultimate diary-writing, can-do-it-all, is back!<span id="more-174"></span></p>
<p>Perusahaan film Working Title mengkonfirmasi bahwa mereka sedang menggarap film ke-3 dari seri Bridget Jones yang dibintangi Renée Zellweger. Untuk menyegarkan ingatan, Bridget Jones&#8217;s Diary adalah sebuah novel chicklit karangan Helen Fielding yang mengisahkan kehidupan Bridget Jones, seorang kolumnis wanita fiksional yang bekerja di surat kabar The Independent di Inggris. Secara kocak, Bridget memperlakukan kolomnya seperti halnya menulis di buku harian tentang hidupnya sebagai wanita karier di usia 30-an namun masih menjomblo.</p>
<p>Film ini masih tanpa titel dan dalam tahap awal produksi. Walau belum akan mulai syuting hingga akhir tahun depan, tapi you ladies yang menggemari kisah ini nggak usah khawatir, karena kita tetap akan melihat aktris cantik Renée Zellweger sebagai Bridget Jones. Rumornya, petualangan terbaru Bridget Jones berdasarkan tulisan kolom karya Helen Fielding yang diterbitkan The Independent selama tahun 2005. Kali ini Bridget Jones yang berusia 40-an, berusaha untuk punya anak sebelum terlambat.</p>
<p>Bagi Gue, Bridget Jones masih membekas sampai sekarang. Ingat nggak, di film pertamanya, Bridget lari mengejar Mark (Colin Firth) hanya dengan pakaian dalam dan mantel tipis, walaupun di luar sedang hujan salju! Betapa mengharukan, tetapi juga sangat menggelikan! Jadi, kalau kamu masih single dan merasa sah-sah aja untuk nyanyi &#8216;All by Myself&#8217; keras-keras di kamar tidurmu, Bridget kali ini pasti akan dinanti. So, keep logging on to BangkuDepan.com dan simak berita terbaru tentang film ini.</p>
<h5>(sumber: variety.com)</h5>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangkudepan.com/?feed=rss2&amp;p=174</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
