Soft Target, High Profile, Deep Impact

Jumat pagi, 17 Juli 2009 dimulai seperti hari-hari lain pada umumnya. Pekan ini akan diakhiri dengan libur panjang karena Senin, 20 Juli adalah tanggal merah. So, everybody in this city would be thinking exactly as I was: the weekend is going to be s-w-e-e-t! The workload would be much, much lighter dan bubaran kerja bakalan nge-date bareng pacar!
Tapi, tunggu dulu! Hari yang indah nggak bakal lengkap tanpa bubur ayam langganan Gue. There’s always time for a nice, hot buryam. Dan di situlah Gue; duduk di pinggir trotoar di seberang Mall Ambassador untuk menikmati sarapan pagi sebelum menuju ke kantor yang lokasinya nggak terlalu jauh dari sana. Sekitar 300-an langkah dari hot-spot Gue sekarang ini.
“Pesan satu, Pak!” ujar Gue ke penjual bubur ayam. Tak sampai dua menit, semangkuk panas bubur dicampur suiran ayam dengan kacang kedelai dan taburan kerupuk pun sudah di tangan Gue. Diiringi gerombolan karyawan yang hiruk pikuk menuju cubicle yang menanti mereka, Gue sesekali melirik ke jam tangan. Oh! Jam 7.46! Sial, Gue lupa kalau ada materi presentasi yang harus disiapkan sebelum jam 8 pagi. Gue buru-buru membayar buryam tadi dan melesat menuju kawasan Mega Kuningan.
Semenit kemudian, terdengarlah suara itu.. Suara yang nggak bakal Gue lupakan seumur hidup…
Pikiran Gue seketika hang dan flash back saat Gue gemetar menyaksikan teror T-Rex dengan dentumannya yang keras dan menggetarkan segelas air di dashboard mobil. Momen Jurrasic Park (1993) itu benar-benar terbawa kembali saat Gue mendengar sekilas seperti suara guntur di kejauhan tadi.
Tak lama setelah suara tadi, Gue melihat kepulan asap putih dari balik gedung sebuah menara. Deg! Jantung ini berhenti rasanya! Asap itu lalu melingkar mengangkasa dan menyelimuti seluruh area di sana. Seperti melihat adegan sebuah film bencana, dari jarak jauh Gue melihat beberapa orang, sebagian berlari dan sebagian memakai motor, menuju ke arah sumber suara dan asap tadi. They’re in panic mode, and I can see that!
Oh, Tuhan! Apa lagi kali ini?
Gue pun mengayunkan langkah lebih cepat. Adrenalin di tubuh Gue tiba-tiba terpacu hingga ke batas kepala dan menyuruh Gue untuk, “Lari ke sana! Lihat apa yang terjadi!” Tapi sebagian akal sehat Gue menahan, “Tunggu dulu! Stay away from trouble! You have a presentation to prepare!” Gue nggak tahu apa yang mencekcoki pikiran Gue, tapi Gue tetap memiih ke sana. Maybe I’m like those people who just couldn’t stay away from trouble. Seperti Jack Bauer di 24 yang terus mengundang masalah ketimbang menyelesaikannya. Apa pun itu, the images I was about to see were far more horrific than what I had in mind.
Di ujung bundaran Mega, Gue berbelok ke kiri dan menyaksikan samar-samar di balik asap yang masih menebal di sekitar lokasi. “Astaga! Itu J.W. Marriot! Jangan-jangan…?” Gue nggak berani menyelesaikan kalimat ini. Pokoknya, lari ke sana dan usahakan tidak bersikap ceroboh.
“Bom!” teriak seorang pemuda sambil berlari mendahului Gue, lalu menghilang di balik asap. Kata itu: BOM. Tidak ada kata yang lebih menakutkan dan menggetarkan nyali Gue selain kata BOM. Lutut Gue lemas dan kepala Gue berdenyut-denyut, but as a wise man once told me, “When you are so afraid, the fear will start to take control.” Gue lagi-lagi mengabaikan itu semua dan herannya menyusul orang tadi menembus asap putih nan pekat.
Horor yang sebenarnya ada di balik sana..
Baru saja Gue menembus kabut asap, terlihat seorang pria mengenakan kemeja putih berlari ke arah Gue. Dia berhambur keluar dari arah lokasi parkir hotel J.W. Sebercak noda merah membekas di bagian lengan kanan atas pria itu. Itu noda darah! Tapi, bukan itu yang Gue masih ingat sampai sekarang, melainkan raut wajahnya! Mimik muka yang ketakutan dan terancam! Kalau Gue bukan Julius, mungkin Gue akan shock dan mengurungkan niat untuk melangkah lebih jauh lagi karena melihat dampak teror lewat sorot mata orang lain. Those eyes still haunts me, even to this day…
10 menit berselang, suara ledakan yang lebih keras dari arah hotel Ritz-Carlton terdengar. Semua orang menunduk dan beberapa kocar-kacir ke segala arah. Situasinya sudah seperti di tengah perang! It was like someone threw a grenade at you or a tank shot a mortar at us and hit the building. I was afraid and it would be foolish if I weren’t. Kemudian, terdengar seseorang berteriak, “Ritz! Ritz juga kena!” Ini gila! Entah kenapa, Gue berpikiran bahwa Jakarta sedang diserang. Peristiwa Teror Mumbai, India beberapa waktu lalu menghantui benak Gue. Apakah Gue akan jadi korban? Apakah dua ledakan ini hanyalah awal dari serangan bersenjata yang lebih menyeramkan? Haruskah Gue melarikan diri?
Belum selesai Gue berpikir, sesosok pria warga negara asing, paruh baya dengan tanpa selembar helai benang di tubuhnya kecuali celana compang-camping, ditandu oleh beberapa orang ke salah satu sudut trotoar. Kepalanya terluka, terbuka lebar. Darah mengucur dari sana-sini dan Gue melihat jelas kepingan-kepingan logam menancap di tubuhnya. Gue nggak perlu menceritakan detailnya di sini. Gue bergidik ngeri dan menjadi mual karena rasa takut yang terlampau besar. Padahal, Gue menggemari film aksi dengan darah. Sewaktu korban berjatuhan karena bom atau tembakan di Saving Private Ryan (1998) atau Black Hawk Down (2002), Gue berpikir, “Cool!” tanpa menyadari betapa mengerikannya hal itu kalau melihat sendiri.
Semua orang berlarian kesana-kemari dan nggak tahu siapa harus melakukan apa. Asap kian menipis dan Gue bisa melihat lebih jelas sekarang. Seorang wanita asing berlari keluar dari arah hotel dan seorang lagi menangis histeris sambil menggendong anak kecil. Gue nggak tahu apakah mereka terluka atau tidak. Beberapa petugas keamanan mencoba masuk ke dalam lokasi hotel J.W., tapi dicegah oleh seorang rekannya. “Nanti dulu! Belum aman! Mungkin ada ledakan susulan…” teriaknya yang malah membuat panik orang-orang di sekitarnya.
Gue sungguh nggak tahu apa yang harus diperbuat! Gue panik dan bingung…. Sampai akhirnya sebuah tepukan keras di pundak Gue menyadarkan lamunan Gue. “Ayo!” ajak seorang pemuda yang berlari dari belakang Gue ke arah parkiran hotel J.W. Dari seragamnya, Gue tahu bahwa dia seorang petugas keamanan hotel. Tanpa berpikir dua kali, Gue mengikuti orang itu dan menembus sekawanan orang yang justru berlari ke arah berlawanan. Gue nggak tahu apa yang bakal Gue lakukan atau temui di dalam sana, tapi belum sempat masuk lebih jauh, pemuda tadi sudah keluar dengan memapah korban yang terluka parah di kakinya. Tanpa perintah, Gue ikut membantu mereka hingga ke trotoar terluar. Dan begitu seterusnya.. Gue bolak-balik membawa seseorang yang terluka dari dalam ke luar. Bantuan dari orang-orang sekitar pada yang terluka pun seadanya. Hanya berbekal kapas dan beberapa kain, mereka mencoba sebisa dan sekeras mungkin untuk menahan luka-luka yang masih terbuka.
Bau anyir tercium jelas, menghantam kepala Gue hingga pusing. Salut bagi orang-orang itu yang menghalau rasa takut mereka untuk menolong para korban. Bahkan, beberapa supir ojek yang biasa mangkal di sekitar lokasi itu langsung menawarkan diri untuk mondar-mandir mengantarkan korban ke rumah sakit terdekat. Begitu juga taksi, bahkan kendaraan bak terbuka datang silih berganti membawa yang terluka. Butuh waktu beberapa menit untuk melihat polisi berada di lokasi kejadian. Itu pun setelah beberapa korban yang terluka parah sudah dibawa menuju rumah sakit. Gue nggak mau komentar tentang yang satu ini, namun pagi ini, di tempat ini, Mega Kuningan mendadak menyerupai Jalur Gaza yang baru saja dihantam roket.
Hampir dua jam Gue nggak beranjak dari sana. Presentasi yang ada di tas Gue sudah terlupakan. Baju Gue kusut masai, bercak darah di mana-mana. Kotor, lusuh dan mulai bau anyir. Gue nggak mungkin masuk kantor dengan keadaan begini. Tersengal, Gue lalu berjalan menjauh ke salah satu sudut lapangan. Gue mengambil telepon seluler dari kantong celana dan menelepon keluarga dan pacar Gue, just to let them know that I’m okay, and that there’s nothing to worry about. Click! Gue memutus telepon dan memandang dari kejauhan, teror macam apa yang baru saja Gue lalui. Lapangan di belakang Gue mulai penuh dengan penduduk, pekerja kantoran, petugas keamanan, sebagian wartawan dan rombongan tim gegana. Ada yang sibuk merekam kejadian menggunakan telepon selulernya, ada yang berteriak-teriak memberi komando kepada orang lain, ada yang sibuk menenangkan mereka yang histeris dan masih shock, bahkan ada yang berdiri pasif sambil menyalakan batang rokok, seakan menonton sebuah peristiwa kecelakaan biasa.
Kelelahan, Gue jatuh terduduk di tepi lapangan itu. And tears start falling from my eyes… Kepala Gue tertunduk dan entah mengapa, Gue terisak. Gue jadi ingat saat seorang pria menangis sambil berteriak histeris di dekat pria asing yang berdarah-darah tanpa pakaian tadi.. Ya, Gue beruntung bisa menahan emosi Gue saat semuanya terjadi. Tapi kini, Gue paham mengapa dia bereaksi seperti itu. Ketakutan dan tragedi yang kami hadapi di tempat kejadian saat itu benar-benar meruntuhkan mental kami, seperti bangunan yang luluh lantak dihantam bom itu. The emotion was so overwhelming, sampai dada Gue sesak dipenuhi banyak perasaan: kecewa, dendam, takut, amarah, murka, ngeri.. My presence on that day created a hole in my chest, and I’m afraid that it won’t heal for a long, long time.
Anehnya, pada saat yang sama, Gue juga menyadari bahwa peristiwa ini terjadi karena suatu alasan. That maybe, I can understand the kind of pain that would drive them to do such a thing.
Anehnya, pada saat yang sama, Gue juga menyadari bahwa peristiwa ini terjadi karena suatu alasan. That maybe, I can understand the kind of pain that would drive them to do such a thing. Kita tidak pernah atau jarang melihat dari sisi sang pelaku, seperti yang ditampilkan di The Peacemaker (1997). Di film itu, kekecewaan seorang ayah dari putri yang tewas karena ledakan bom memotivasinya untuk mengambil hulu ledak nuklir dan berencana merobohkan gedung PBB, New York beserta isinya. Mungkin, itu pula yang melandasi perilaku keji ini: bahwa jauh di lubuk hati mereka, tertanam perasaan kecewa, amarah dan penderitaan. These emotions transformed them into a powerful and deadly weapon, and they have full intention of using it against their enemies. Their enemies however… are unfortunately as innocent as they were.
I looked at my watch again. Jam 10.30. Gue bangkit dan mencoba untuk tidak terlalu tampak cengeng di hadapan banyak orang. Dengan langkah gontai, Gue berjalan menyusuri trotoar. Kali ini, beberapa ambulance sudah tampak di lokasi. Jadi, kehadiran Gue sudah cukup. Tim medis itu pasti lebih tahu apa yang mereka lakukan untuk penanganan korban ketimbang Gue yang amatir ini. Dan sepertinya, kekacauan tidak lebih parah ketimbang dua jam pertama setelah ledakan di Ritz tadi.
So, I walked into my building. Penjaga keamanan gedung berhamburan menghampiri Gue, menanyakan apakah Gue termasuk salah satu korban karena mereka melihat begitu banyak noda darah di baju Gue. Tanpa menjawab, Gue buru-buru ke kantor Gue dan langsung berbelok arah ke toilet untuk membersihkan wajah dan badan, walau ala kadarnya. Selama lima menit di dalam toilet itu, Gue masih bisa mendengar jeritan minta tolong, darah yang menggenang di trotoar, suara gemuruh ledakan, asap yang mengaburkan pandangan hingga bau anyir yang pekat. Gue cepat-cepat menyeka wajah untuk menghilangkan pikiran tadi, walau sirene ambulan dan polisi masih terdengar sayup dari sini.
Yep, sekarang Gue sudah lumayan rapih. Kalau boss bertanya apa yang telah Gue lakukan seharian ini, dia bisa melihat buktinya dari baju Gue yang kotor. Gue pun melangkah mantap keluar dari toilet.
Setibanya di depan pintu kantor, sebuah papan pengumuman tergantung di sana.
OUR OFFICE IS TEMPORARILY CLOSED DUE TO CURRENT EVENT AND WILL OPEN ON TUESDAY, 21 JULY 2009. APOLOGIZE FOR THE INCONVENIENCE MAY CAUSED AND THANK YOU FOR YOUR KIND ATTENTION
-Management-
Sial!
Filed under: Feature
One Response to “Soft Target, High Profile, Deep Impact”
July 24th, 2009 at 11:22 am
Ghees… you did a great job. I enjoy it.
Ps: i wrote the same theme but you did better