24
Jul

Manisnya Kain Warna Warni (Part 1)

Beberapa Anggota Teh O Ais Production

Teh O Ais Production: di mana es teh manisnya?

A close friend of mine once told me, “A good movie is 1% brilliant idea and 99% hard-work.” Sebetulnya sih, pesan itu ditujukan ke Gue waktu kami bercita-cita untuk mengerjakan sebuah proyek film yang hingga kini tertunda (Hehehe! Sorry, bung Jul!) But, let’s not talk about me, but rather feast our eyes on these lads who are finally ready to reveal themselves, fresh from their nesting ground. Ya, sekelompok mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang kuliah di Malaysia sungguh-sungguh menerjemahkan pesan tadi, setidaknya itu yang tampak di mata kami – para redaksi BangkuDepan saat berkunjung ke sebuah rumah sekaligus base camp mereka di bilangan Jakarta Selatan, Sabtu (18/7) lalu. Kami berdiskusi mengenai film paling gres kreasi para pelajar itu, yakni Kain Warna Warni (KWW – bukan dibaca KWalitas Wuantap, ya?), ambisi mereka di perfilman nasional, dan tentu saja, proses mewujudkan ambisi tadi menjadi kenyataan.

Teh Manis Production

Tersebutlah Teh O Ais Production, rumah produksi yang diciptakan oleh komunitas pecinta film di bawah perkumpulan mahasiswa Indonesia bernama Merah Putih Club yang menuai ilmu di Limkokwing University, Malaysia. For those who don’t speak Malay, Teh ‘O’ Ais diambil dari nama minuman segar yang sangat familiar di negara kita: es teh manis. Bagi kita, minuman ini hanya bernilai 2500 perak. Bagi mereka, priceless. Nama ini menjadi sumber inspirasi untuk membuat film-film ‘rasa’ lokal alias Indonesia yang bisa cocok oleh lidah mana pun (meminjam bahasa Akang Bondan, “Pokoknya, maknyus!”).

Limkokwing University

Pemuda-pemudi yang mempelopori berdirinya PH ini tahun 2007 sebetulnya sudah mulai menargetkan diri untuk bikin film feature berdurasi panjang. Now that’s what I call: driven by a purpose! Maka, mereka mulai membuat proyek-proyek film berdurasi pendek untuk melatih diri sekaligus mengetahui sampai sejauh mana kesiapan sineas muda ini dalam membuat film yang lebih panjang dan baik dari segi kualitas. “Setiap kali kami mau bikin film (durasi) panjang, kami selalu bertanya ke masing-masing anggota, ‘Kita sudah siap atau belum?’ Dan kalau jawabannya belum siap, kami balik lagi ke pembuatan film (durasi) pendek. Begitu terus, sampai kami menemukan timing yang pas untuk lanjut ke proses berikutnya,” jelas Ida Bagus Charisma atau yang akrab dipanggil Charis, sang sutradara KWW. “Kami melakukan rotasi tugas ke seluruh kru yang terlibat agar mereka tahu setiap peran dan posisi yang ada di balik proses produksi film. Dengan begini, kami bisa tahu apakah kami siap untuk lanjut ke proyek yang lebih besar atau tidak,” lanjutnya.

Shandy Yuliandri

Shandy Yuliandri (kiri), presiden Teh O Ais Production

Tapi, jangan kira bahwa PH ini hanya berhenti di film panjang lalu berakhir begitu saja. “Kami ingin agar  Teh O Ais Production dapat berdiri di Indonesia dan membuat film di sini,” ujar Shandy Yuliandri, presiden  Teh O Ais Production. “Selama ini, kami berkiprah di Malaysia. Kami ingin membuat film-film kami tentang Indonesia di negara ini,” lanjutnya bersemangat. Mimpi yang panjang tapi patut ditunggu kelanjutannya.

“Syuting? Syusah!”

“Kain Warna Warni dibuat hanya dalam 10 hari..” Kalimat pertama dari Ichuy Pexi, dara manis yang menjadi produser KWW tadi membuat tim BangkuDepan terperanjat. Untung dia buru-buru klarifikasi. “Maksud Gue, shooting-nya 10 hari, tapi pra dan post produksi memakan waktu lebih dari itu,” terang Ichuy dan tentu saja, kami tidak keberatan dengan itu. Charis menambahkan bahwa lamanya membuat film tadi telah ditentukan karena sebagian kru dan pemain akan segera lulus kuliah dan kembali ke tanah air. Ini adalah malapetaka buat tim produksi. Namun untungnya, dengan usaha keras mereka, pengambilan gambar dapat berjalan tepat waktu. “Saking mepetnya, kami harus menginap di lokasi syuting demi menghemat waktu. Karena set-nya di daerah gunung, kami bahkan mencari villa dan bermalam di sana selama lima hari. Lalu, kami kembali lagi ke kota dan tidak sempat istirahat, kami harus melanjutkan syuting lagi di daerah pantai selama dua hari. Sisanya dilakukan di jalan dekat kampus. Capek gara-gara kejar tayang, tapi fun!” kata Ichuy yang cihuy ini.

Ichuy Pexi

Ichuy Pexi, produser Kain Warna Warni

Memboyong tim dengan segala atributnya diakui Ichuy tidak mudah. Apalagi, komplain sana-sini dari kru mulai berhamburan segera setelah syuting berjalan beberapa hari. “Biasalah, kalau bad mood dan rasa capek sudah datang, kami harus pintar-pintar atur waktu agar syuting jadi efektif. Syuting itu susah, karena kami harus menyesuaikan banyak hal; anggaran, waktu, talent-nya, macam-macam. Kami sekalian belajar di sini karena (membuat film) nggak gampang dan nggak bisa memilih waktu. (Kalau) tiba-tiba hujan syuting tetap jalan,” tutur Charis. Uniknya, ada beberapa adegan yang harus diambil diam-diam karena memang mereka tidak mendapat izin dari pengelola setempat untuk melakukan syuting. “Kalau ada kesempatan, kami ambil gambar. Untungnya aman dan nggak ada gangguan,” sambung Dimas Rizki, asisten sutradara sekaligus editor KWW.

Charis

Ida Bagus Charisma, sutradara Kain Warna Warni

Kendati repot, namun jangan bayangkan bahwa seluruh kru dan talent tanpa persiapan sama sekali. Justru mereka telah ready sejak jauh-jauh hari pengambilan gambar. Kisah empat orang sekawan asal Indonesia yang memutuskan untuk berlibur di pantai dan gunung ini sudah dikonsep sejak lama. Awalnya, para anggota Teh O Ais Production memiliki ide-ide cerita pendek. Ide itu antara lain cerpen yang mengambil lokasi di gunung dan pantai. Ragam ide ini lalu digabungkan dan berbuah Kain Warna Warni, yang menurut sang sutradara, “Adalah film dengan dua plot menjadi satu.”

Casting pemain juga tak main-main. Mereka secara sungguh-sungguh memperlakukan rekrutmen pemain secara profesional. Pencarian bakat bahkan dilakukan hingga ke luar kampus Lim Kok Wing karena talent yang ada memang tidak memenuhi kriteria. Saat casting, setiap calon yang melamar diminta untuk membacakan skrip. Wah, kalau ini direkam, bisa menjadi fitur keren di DVD nih! Proses pembentukan karakter pun tidak sebentar. Bongkar pasang antara karakter yang satu dengan pemain yang lain dilakukan saat casting. Apalagi saat reading (proses dialog antar pemain sebelum melakukan pengambilan gambar), langsung ketahuan siapa cocok melakoni apa. Reading ini pula yang membikin para pemain mengenal satu sama lain dan menyelami karakter tokohnya. La Tessa Dwadiandra, salah satu cast mengutarakan bagaimana ia bisa membawa hobinya, Lomography (open your wikipedia, people! I’m not going to dive in this word!) menjadi bagian dari karakter tokoh Lana, sementara Sharifa Alia yang memang gemar menulis diperbolehkan oleh casting director dan penulis naskah menumpahkan uneg-unegnya ke atas buku tulis sebagai trait dari Kirana. “Keputusannya sambil jalan aja. Karena emang Gue doyan lomo, lalu dibawa pas syuting, menurut kami ‘Kenapa (hobi lomo) nggak dimasukkin aja ke dalam film?’ Lalu oleh sutradara dianggap tidak mengganggu keseluruhan jalan cerita, maka jadi deh, karakter Lana menyukai Lomo,” kata Tessa yang tampak jauh berbeda dari teaser trailernya kalau bertemu langsung. Sekali lagi, kami tidak keberatan dengan itu..

(bersambung di Part 2)

La Tessa Dwadiandra

La Tessa Dwadiandra (depan) sebagai Lana di Kain Warna Warni

Filed under: Preview

Beri Komentar