5
Aug

Semarak Ponyo, di Atas Tebing, di Tepi Laut

REVIEW “PONYO ON A CLIFF, BY THE SEA” (2008)

Ponyo on A Cliff by the Sea

Ponyo dan adik-adiknya: Pernah lihat ikan berwajah manusia dan berambut merah seperti ini?

I am proud to present my first movie review for BangkuDepan.com. This review is especially A-W-E-S-O-M-E for me karena film yang akan gue review adalah besutan salah satu sutradara favorit gue, Hayao Miyazaki. Sebenarnya, sebuah kompetisi kecil terjadi ketika memutuskan siapa yang pantas untuk menulis ulasan film Ponyo. Pertama, sebuah persetujuan dibentuk untuk tidak menggunakan kata ‘lucu’ dalam tulisan ini. Diam-diam, Julius, who is sucker for cartoon, mundur dengan sendirinya. Lalu terjadi sebuah tanya-jawab untuk menentukan “Who’s a bigger Ghibli fan?” Naturally, I (me, Vano) would get the most points and win it! Anyway….

Let’s begin with the most basic question: “Siapa sih yang disebut-sebut sebagai anime-master ini?” Bagi yang belum kenal Hayao Miyazaki (yikes!), dia adalah sineas berusia 68 tahun asal Jepang yang terkenal lewat film-film animasi garapannya. Karya-karya awalnya seperti Nausicaä of the Valley of the Wind (1984) dan Laputa: Castle in the Sky (1986) telah melegenda dan amat dicintai di negara asalnya. Tetapi ketika film Spirited Away (2001) memenangi Academy Award untuk kategori Best Animated Feature, nama Miyazaki melambung tinggi dan ia pun mulai dikenal di seluruh dunia. Sejumlah seniman, penulis, sineas film dan animasi unggulan seperti John Lasseter, chief creative officer dari Pixar, bahkan menganggap Miyazaki sebagai sosok yang berpengaruh besar pada diri dan karyanya.

Enough about the filmmaker, so what is this movie all about? In short, Ponyo, yang berjudul lengkap Ponyo on the Cliff by the Sea (atau yang fasih bahasa Jepang, dibaca Gake no ue no Ponyo), dibuka dengan sebuah montase indah menggambarkan maraknya kehidupan bawah laut. Dari plankton kecil hingga ikan hiu raksasa berenang melingkari sebuah kapal selam aneh, seakan terhipnotis oleh seorang lelaki berpakaian rockstar tahun 80-an (I’m not kidding!) yang sedang melakukan sebuah eksperimen. Sementara itu, seekor ikan kecil berwajah imut dan berambut merah (fish? hair?) kabur dari kapal selam tersebut dan mengapung ke permukaan laut ‘menumpang’ seekor ubur-ubur. Malang, ikan kecil ini tertimpa masalah setibanya di pantai, tetapi ia berhasil diselamatkan oleh seorang bocah laki-laki bernama Sosuke (suara oleh Hiroki Doi). Ikan kecil itu pun dinamakannya Ponyo (Yuria Nara) dan mereka menjadi teman baik. Sempat merasakan darah manusia (horror banget ya!) saat menyembuhkan luka Sosuke, Ponyo yang memiliki kekuatan sihir ini pun lama-kelamaan ingin menjadi seorang manusia.

Hold on just a second! Seekor ikan yang ingin menjadi manusia? Think you’ve heard that before? Mungkin karena film ini memang meminjam premisnya dari cerita klasik karangan Hans Christian Anderson, The Little Mermaid. Tetapi Ponyo adalah The Little Mermaid yang banyak dimodifikasi; moral ceritanya sama, tetapi dunia dan karakternya khas Miyazaki. Lisa (Tomoko Yamaguchi), ibu Sosuke, adalah karakter khas Ghibli (studio animasi milik Miyazaki), seorang wanita muda yang tegas dan berani. Karakter yang berparas mirip Hakku dalam Spirited Away ini berani melewati jalan yang nyaris ditelan ombak tsunami demi ibu-ibu lansia asuhannya. Kôichi (Kazushige Nagashima), ayah Sosuke, adalah seorang kapten kapal yang jarang di rumah dan sering berkomunikasi dengan anaknya dari kapalnya menggunakan kode morse. Fujimoto (Jôji Tokoro), sang underwater rockstar, adalah ayah Ponyo, seorang penyihir yang bercita-cita mengembalikan kejayaan makhluk bawah laut dengan cairan-cairan ajaibnya. Ketika Ponyo mulai berubah menjadi manusia, Fujimoto menggunakan kekuatan sihirnya untuk mengubah sang anak kembali menjadi ikan. Tindakan ini bukannya meredam keinginan Ponyo menjadi manusia, tetapi malah membuat ia memorakporandakan rumah si rocker gaib ini, sekaligus merusak rencana Fujimoto yang akan mengganggu keseimbangan alam. Sang ayah yang kebingungan pun menyerah dan mencari ibu Ponyo, seorang dewi laut bernama Gran Mamare, untuk meminta nasihatnya. Gue sampai berpikir, sepertinya hanya tokoh-tokoh Alice in Wonderland yang sanggup menandingi karakter-karakter yang aneh ini.

Ponyo dalam wujud anak perempuan

Ponyo yang berwujud anak perempuan akhirnya bertemu Sosuke

Walau kental nuansa fantasi-nya, plot dalam film Ponyo mengutamakan interaksi kedua tokoh utamanya. Tawa Sosuke saat bertemu Ponyo untuk pertama kalinya, dan ketika ia menangis saat Ponyo diklaim kembali oleh ayahnya, adalah beberapa adegan yang tidak mudah dilupakan. Terlebih ketika Miyazaki secara sengaja menyelipkan saat-saat tenang atau “quiet moments” setelah adegan tersebut, memberi waktu kepada penonton untuk benar-benar meresapi emosi sang karakter. Sebenarnya, istilah “quiet moments” pernah digunakan John Lasseter untuk menjelaskan teknik khas yang digunakan Miyazaki pada semua filmnya. “He celebrates the quiet moments,” kata John, dan itu membuatnya “one of the most original filmmakers ever”. Tidak hanya pada adegan dramatis, Miyazaki juga berhasil menggambarkan kebahagiaan pengalaman “first-time” lewat karakter Ponyo. Seekor ikan mas kecil yang berubah menjadi seorang anak perempuan pun tak habis gembiranya saat pertama kalinya menyeruput teh madu dan menyantap ramen bertopping ham. “Mmmmm, ham!” ujarnya ceria.

Ponyo dengan apik menggambarkan interaksi di antara dua keluarga berbeda dunia ini. Lisa yang meninggalkan Sosuke di tengan badai, hingga ia kebingungan mencari ibunya. Fujimoto yang tak mengerti apa yang mesti ia lakukan kepada anak perempuannya yang mulai berubah menjadi manusia. Masalah-masalah tersebut adalah benang merah sekaligus tema utama dalam film ini. Kekeluargaan, in a nutshell, needs a balancing act. Ketika satu orang tua tidak dapat menyelesaikan sebuah masalah, menjadi tanggung jawab orang tua satunya untuk membantu menyelesaikannya. Drama keluarga ini berjalan tanpa struktur atau formula film Hollywood sehingga penonton yang terbiasa menonton film Disney akan merasa cara bertutur film ini agak aneh. Contohnya, pada adegan badai besar, Koichi, ayah Sosuke, seperti menghilang dari peredaran. Sesekali ditampilkan hanya untuk menunjukkan kejadian aneh yang terjadi di laut lepas. In Hollywood talk, they’re called ‘plotholes’, tetapi dalam film ini lubang plot tersebut tidak menjadi gangguan, tetapi menjadi sebuah ciri khas yang menegaskan posisi Miyazaki sebagai seorang “independent filmmaker”.

Omong-omong soal teknis, sebagai penikmat animasi, gue merasa benar-benar dimanja ketika menonton Ponyo. Sejak film ini masih pada tahap awal, Miyazaki mengindikasikan bahwa ia akan mengambil rute berbeda dalam menggarap animasi dalam film terbarunya. Ternyata, jauh berbeda mungkin tidak, tetapi subtle differences memang terlihat bahwa Miyazaki kali ini tidak terlalu berlembur pada detail-detail di background-nya seperti pada Princess Mononoke (1997) atau Spirited Away (2001), tetapi dia berkonsentrasi lebih pada gerakan animasi. Perbedaan ini nyata terlihat pada animasi ombak yang bergerak sangat realistis dan betapa banyaknya makhluk laut yang tampil bergerak hanya dalam satu adegan. Karena rute baru tersebut, Ponyo, yang kira-kira mengambil waktu yang sama antara adegan bawah laut dan di daratan, terlihat sangat hidup. Apalagi didukung score oleh Joe Hisaishi yang spot on, mengiringi kehidupan tepi pantai dengan nuansa musik yang simple yet catchy.

Ponyo dan Sosuke

Ponyo dan Sosuke: imajinasi tanpa batas

Dalam sebuah adegan penting di film ini, sebuah tsunami besar menghantam daratan dan tidak ada seorang pun yang cedera. Yang terjadi malah sebuah perbandingan visual (juxtapose) yang menarik, menghasilkan komposisi yang aneh namun indah, di mana makhluk laut berkeliaran di halaman depan rumah dan jalan beraspal seperti layaknya manusia. Pada saat-saat seperti itu, insting orang dewasa akan mulai bertanya-tanya, “bagaimana bisa?” Tetapi khalayak sasaran film ini akan tetap duduk di bangkunya, terpesona dengan gambar-gambar imaginatif yang fantastis, membiarkan diri terbuai oleh dongeng dan jatuh cinta dengan karakter-karakternya. It can’t get any better than this.

Ponyo on the Cliff by the Sea (Gake no ue no Ponyo)
Sutradara: Hayao Miyazaki
Penulis Naskah: Hayao Miyazaki
Tanggal Rilis: 19 Juli 2008 (Jepang)
Genre: Animasi, Petualangan, Keluarga, Fantasi
Tagline: Welcome To A World Where Anything Is Possible

4 Bangku

Filed under: Review

One Response to “Semarak Ponyo, di Atas Tebing, di Tepi Laut”

melamine Says:

jadi kepengen nonton

Beri Komentar