5
Aug

Merajut Kain Warna Warni

REVIEW “KAIN WARNA WARNI” (2009)

Kain Warna Warni

Kain Warna-Warni: Ke Gunung atau Pantai?

Yipeeeyyy… Akhirnya, selama sekian tahun menunggu (bercanda, eh!) akhirnya gue bisa ikut premiere pertama dalam hidup gue. Thanks to Teh O Ais Production yang telah mengundang kami untuk menyaksikan karya film berdurasi panjang pertama mereka, Kain Warna Warni. Begitu tiba di Blitz Megaplex Grand Indonesia, kesan gue adalah: Swell! Buanyak banget orang yang hadir.. Sampai-sampai gue berpikir kalau gue menghadiri premiere Daster Kuntilanak atau Kursi Goyang Genderuwo.. (Hahahahaaa..!*Peace*)

Eh, kejutannya nggak berhenti sampai di situ, lho. Begitu sampai, gue langsung disambut rekan-rekan dari Teh O Ais yang sedang jaga booth penukaran tiket. Mereka memberikan gue satu goody bag dengan isi penuh pernak-pernik Lim Kok Wing Unversity. Agak bingung juga sih, kenapa justru merchandize dari kampus yang mereka kasih, instead of pin Kain Warna-Warni atau T-Shirt Teh O Ais. Mungkin kalau ini yang mereka kasih, bakal gue pakai malam itu juga! Hehehe… Yah, pesan sponsor memang nggak boleh dilupakan sih. Eits, nanti dulu! Kebingungan gue langsung sirna sewaktu membaca Press Release yang diikat rapih dengan sebuah pita. Tadinya, gue pikir press release ini hanya berupa intro reguler yang biasa gue baca. Ternyata, kali ini lebih istimewa karena nama Bangku Depan dicantumkan oleh mereka sebagai media yang mendukung pemutaran Kain Warna-Warni! Wedew, gue langsung telepon Vano dan bilang ke dia bahwa kami harus segera buat T-Shirt sebagai identitas atau minimal ID Card biar mirip jurnalis partikelir gitu… *grin* Thanks to Teh O Ais sekali lagi yang bermurah hati mempublikasikan kami!

Oke, now let’s buzz about the movie. Intro Kain Warna Warni dibuka dengan sebuah buku harian yang mengisahkan sekelumit kehidupan tiga cewek dan satu cowok (what a lucky dude): Kirana (Syafira Alia Husin) sesosok gadis melankolis yang gemar menulis, Bella (Mya Amelia Fauza) yang agak gamang dan semenjana, Danur (Alvinta Hersyanto Purba) si cowok yang setia kawan tapi sedikit gokil alias nyeleneh dan nggak jelas, serta yang terakhir Lana (La Tessa Dwadiandra) sang tomboy yang teriakannya paling keras di antara yang lain (but, believe me all the guys out there, if you meet her, you’ll love her). Mereka berempat diceritakan hendak berlibur dan muncullah pertanyaan paling jamak yang bakal kita dengar setiap kali mau bepergian: ke gunung atau ke pantai? Nyatanya, pilihan ini memberikan dua buah alternatif konsekuensi yang bakal mereka hadapi. Gampangnya, kalau loe nggak baca tulisan ini sekarang, loe pasti sedang melakukan sesuatu yang lain. Dan apa pun yang loe lakukan tadi, akan membawa loe ke kejadian berikutnya. “One action leads to another,” ujar Diaz Hendrassukma, salah satu penulis naskah film ini yang dijumpai di sela-sela pertunjukkan. Jadi, bagi penonton yang waktu itu ikut melihat filmnya tapi masih belum paham jalan ceritanya, I recommend you to buy the DVD. Heheheee…

Sebagai informasi, sebetulnya film ini merupakan dua plot cerita yang digabung menjadi satu jalinan kisah. Sebagai sineas pemula, nyatanya memang tak gampang memadukan cerita yang berbeda setting dan dramalurgi ini. Akhirnya, pengorbanan pun dilakukan. Setting pantai yang menjadi kisah pertama tampak berjalan limbung dan lambat. Konflik yang dihadirkan adalah pertemanan dan persahabatan, sebuah isu umum yang pasti bakal hadir jika menyangkut film-film seperti ini. Dialog yang menyitir makna friendship semacam, “Sahabat itu nggak boleh minta, bolehnya kasih,” tampak seperti aturan baku yang harus dipatuhi oleh setiap filmmaker mana pun. Tapi, kejutan menanti di akhir kisah ini. Sebuah hubungan yang unik mulai hinggap di antara mereka dan reaksi hubungan antar-teman yang rumit lumayan enak disimak. Endingnya sih nggak terlalu menggigit dan berakhir terlalu cepat namun sebetulnya memberikan peluang untuk membuka cerita selanjutnya. No, I’m not gonna spoil the cliffhanger, tapi bisa gue pastikan bahwa petualangan seru mereka di pantai tidak berakhir bahagia.

Lain ladang, lain belalang. Beda setting, beda pula konflik yang meruncing. Gunung memancing imaji yang berbeda dengan pantai. “Kami memang sengaja merapatkan emosi dan tekanan cerita di cerita di (lokasi) gunung,” jelas Diaz lagi. Dan benar, penulis skenario keroyokan yang terdiri dari Nara Nugroho, Ariane Alana dan Pradnya Paramita serta Diaz sendiri bisa dibilang berhasil membawa tone cerita seperti kabut yang turun perlahan di tepi tebing; tebal dan lebat di malam hari yang bisa menyesatkan orang di dalamnya, namun menipis di kala fajar yang memberikan kesegaran dan kehidupan baru. Wah, gue nggak bermaksud berpuitis dan sok romantis nieh, tapi memang bobot drama lebih kental terasa di semi-episode yang kedua ini. Apalagi, konflik yang hadir lebih kompleks. Nggak cuma persahabatan mereka saja yang terancam bubar, namun justru perselisihan yang terjadi di antara mereka menjadi penguji kerekatan satu sama lain. Satu lagi, emosi penonton lebih dikuras terutama saat Danur dan Kirana bersitegang akibat sebuah kesalahan fatal. Di sini, Kain Warna Warni bercerita logis: People make mistakes, who doesn’t? But how far will you let your friends drown in their mistakes? Kelebihan yang ditonjolkan di kisah yang kedua ini adalah bagaimana all the casts sanggup bermain natural dan wajar. Two thumbs up buat Syafira Alia dan Alvinta Purba yang bermain dinamis dan kompak di sini, setelah sebelumnya performa mereka ‘tenggelam’ di pasir pantai.

Di penghujung kisah, satu momen mengharukan membungkam seisi ruangan audiotorium Blitz berkapasitas 500 tempat duduk yang hampir penuh terisi itu (well, kecuali untuk deret bangku yang diperuntukkan oleh media dan malah hanya gue yang duduk di sana). Klimaks yang ditata rapi dan sempat membuat gue larut dalam emosi sayangnya hanya bertahan sebentar. Endingnya lagi-lagi terlampau singkat dan terburu-buru. Padahal, timing-nya sudah pas banget dan pemainnya juga sudah all-out. Apalagi skenario ini melibatkan hidup dan mati yang menentukan nasib salah seorang dari mereka. Tapi tak apalah. Setidaknya, Kain Warna Warni cukup pintar dengan tidak terjebak dalam kisah tragis yang cengeng namun sebaliknya, justru memperlihatkan ketegaran para tokoh yang terlibat dalam memandang kehidupan pada bingkai persahabatan walau diancam kematian (Lengkap deh!).

Overall, gue cukup salut dengan Kain Warna Warni yang memilih sebuah drama sebagai base kisah. Ini sebetulnya tantangan besar buat mereka karena memang terbukti tak mudah. “Jujur saja, kami memang sedikit mengalami kesulitan saat melakukan editing untuk setting di pantai, karena mood yang dibangun memang lebih pelan ketimbang lokasi di gunung,” kata Diaz. Beberapa inkonsistensi juga sempat tampak, seperti misalnya Kirana yang tampak tak bisa lepas dari buku jurnalnya saat setting di gunung, hampir tidak memegang bukunya itu saat mereka di pantai. Secara teknis, Kain Warna Warni masih mengalami problem (mata gue sempat pegal dengan gambar yang buram – apa karena gue diberi tempat duduk paling depan, ya?), namun tingkat kesulitan yang mereka lewati barusan menjadikan kru Teh O Ais memasuki level berikutnya. Seperti yang dituturkan Nara Nugroho, penulis naskah yang baru berusia 17 tahun ini, “Sekarang, Teh O Ais sudah melewati ini (penayangan perdana). Berikutnya, film baru di Indonesia!” Diaz menambahkan, “Saat ini, kami tengah menikmati masa-masa kami dan hanya ingin merayakan keberhasilan kami.” Yep, they deserve it.

Satu hal yang gue soroti sepanjang film adalah soundtrack Kain Warna Warni yang sangat easy-listening. Sayang beribu sayang, gue tidak sempat menikmati suguhan secara langsung yang dibawakan oleh Parisude, entah itu grup band atau nama seorang vokalis sewaktu mereka menghibur para penonton di Blitz. Aransemen akustik yang nyaman dan tenang cukup pas dimainkan oleh mereka di dua setting yang berbeda. Asyiknya, trak-trak yang ada tidak mencoba mengalahkan adegan filmnya itu sendiri, namun tetap menjadi pendamping yang apik. Kalau mereka ke Indonesia, boleh dong Bangku Depan mendapat CD-nya (ngarep mode: on)..

Menyaksikan antusiasme dan semangat dari penonton yang menyesakki lobby utama Blitz malam itu benar-benar membuat gue terperangah, betapa besar kekuatan anak-anak muda ini (sok tua nih gue…) dan seharusnya menjadi modal kekuatan kebangkitan sinema Indonesia yang sudah mulai masuk ke titik jenuh dengan karya-karya yang banyak namun bermutu rendah. Regenerasi itu penting dan di pundak merekalah, masa depan perfilman nasional kita akan berevolusi. Hanya satu kalimat yang bisa gue ucapkan ke mereka, “May the force be with you.”

Kain Warna Warni
Sutradara: Ida Bagus Charisma, Dipa Sitepu
Penulis Naskah: Nara Nugroho, Ariane Alana, Pradnya Paramita, Diaz Hendrassukma
Pemain: Alvinta Hersyanto Purba, Sharifa Alia Husin, Mya Amelia Fauza, La Tessa Dwadiandra
Tanggal Rilis: 28 Juli 2009 (Jakarta)
Genre: Drama, Perjalanan
Tagline: Itulah Pilihan, Seperti Halnya Kehidupan

3 Bangku

Filed under: Review

2 Responses to “Merajut Kain Warna Warni”

bisma Says:

maaf… mau komen utk websitenya boleh ya..
warna background sama tulisan terlalu deket,,, jd susah dibaca :)

btw, bravo Teh O’ Ais

bisma Says:

wahahaha.. gajadi.. ternyata koneksi internetnya buruk.. jd warna dasar putihnya tadi ga muncul :p
peace

Beri Komentar