12
Aug

Enemy Spotted… Need Back Up…

Enemy Spotted... Need Back Up...

Code Five! Code Five! Wanted Person!

Damn! Simpang siur kepastian tewasnya Noordin M Top bener-bener bikin gue gregetan! Apalagi setelah menonton di tivi upaya heroik tim Detasemen 88 Anti Teror saat menggerebek rumah yang diduga terdapat gembong teroris paling dicari di Indonesia itu, bikin gue keburu bangga dengan kinerja Kepolisian Republik Indonesia. Tapi, lagi-lagi berita miring santer terdengar kalau adegan dramatis di akhir pekan itu hanyalah sebuah rekaan belaka! Buset! gue bingung harus percaya yang mana….

Tapi, lepas dari kontroversi yang beredar, gue tetap mengacungkan jempol dengan aksi tim elit Detasemen 88. Terutama saat mendengar penjelasan Jenderal Polisi Bambang Hendarso Dahuri yang merasa bangga dengan dedikasi anak buahnya yang tanpa lelah. Bayangin aja, ada seorang anggota Densus yang terluka dan masih diinfus, mencabut sendiri selang infusnya dan segera kembali bergabung bersama rekan-rekannya di lapangan. Belum lagi yang sempat terkena stroke karena keletihan bertugas, juga melanjutkan tugasnya walau baru pulih. Mendengar ini dan mengaitkan kesaksian Brigjen Polisi (Purn) Suryadharma saat masih menjadi komandan Densus sungguh mengobarkan semangat gue untuk… errr… bikin artikel ini!! Hehehee!!

Sebetulnya, dengan makin beragam dan banyaknya kisah mengenai sepak terjang polisi Indonesia, para sineas perfilman nasional bisa mulai membuat film-film tentang mereka. Sebab, jika diteliti lebih jauh (emangnya ilmuwan!), film Indonesia yang berceloteh mengenai kehidupan polisi hampir minim. Oke, mungkin gue terlalu junior untuk bilang ini, karena siapa tahu di jaman baheula, masa di mana perfilman Indonesia masih ditukangi oleh sineas macam Usmar Ismail, Djadjakusuma atau Suman Djaja sempat ada film yang gue maksud. Jadi, pengamatan gue hanya sebatas film-film keluaran tahun 2000-an. Misalnya, Bad Wolves arahan sutradara Richard Buntario yang bercerita tentang misi polisi memburu dua geng narkoba yang saling bertikai, atau The Police (minus Sting! Hehehe!) yang (kabarnya) diedarkan di tahun 2008 dan memakan biaya delapan miliar, namun sampai sekarang entah bagaimana kabarnya (atau gue yang memang nggak perhatian). Mengejar Matahari (2004) bikinan Rudi Soedjarwo juga sempat memunculkan sosok polisi pada diri karakter Ardi (Winky Wiryawan) walaupun hanya di bagian ending-nya saja.

Detasemen 88 Anti Teror

Spesialis Senjata dan Taktik: Detasemen 88 Anti Teror

Nah, mungkin yang paling cocok disebutkan adalah Kala (2007), film noir pertama oleh Joko Anwar. Di sini, sosok polisi Eros yang diperankan oleh Ario Bayu digambarkan sebagai anti-hero; tidak jujur namun satu-satunya penegak keadilan yang bisa dipercaya (Nah lho! Bingung, kan?). Peran dia lumayan besar di film ini dan memengaruhi perkembangan kisah. Sayangnya, karena sejak awal Kala bermisi menjadi film noir, maka Joko Anwar memberikan corak karakter yang nyerempet ke film-film dark tone tersebut. Akhirnya, postur Eros pun lebih mirip polisi di New York ketimbang di negara kita. Trench coat lusuh, topi fedora dan sabuk senjata yang diikatkan di badan benar-benar membuang jauh imej polisi lokal yang selama ini dibuat stereotipe: seorang “Siap, Komandan! Laksanakan, Komandan!” yang memakai jaket kulit hitam dan bersikap kaku selayaknya kumisnya yang tebal itu (Mohon maaf, Pak Polisi!). Mungkin memang polisi seperti itu yang kerap dijumpai di polsek sewaktu mengurus Surat Keterangan Kelakuan Baik atau pas menonton kejar-kejaran antara polisi reserse dan seorang residivis maling jemuran di acaranya Bung Napi.

Kesan itulah – baik kesan polisi noir a la Joko dan kesan kuno a la entahlah siapa, yang hilang saat gue menyaksikan Densus 88 beraksi. Mungkin ini kesatuan berbeda; specially designed for anti-terror. Wuih! Nulisnya saja sudah bikin gue merinding! Ibaratnya: Keren gituh! Kalau sudah pernah main Counter Strike, yah kira-kira seperti itu deh.. Mengendap-endap di belakang teroris dengan Steyr AUG kaliber 5.56mm, sementara seorang partner di samping kanan kita bersiaga sambil mengacungkan handgun Fiveseven dan membuat barikade menggunakan ballistic shield. Berdebar-debar rasarnya! Eits, nanti dulu ! gue bukan war-junkie atau penggila hal-hal yang berbau militer dan senjata. Hanya saja, bagi gue, sudah saatnya postur polisi di Indonesia berubah. Sudah bukan jamannya lagi polisi bersosok buncit dan selalu tergopoh-gopoh datang ke lokasi saat penjahatnya sudah keburu keok oleh jagoannya. Densus memberi arti baru, yakni polisi-lah yang memroses dan menindas si penjahat! The bomb has been defused gitu loh! Sayangnya, mengapa masih belum ada sineas yang berani membuat film polisi yang lebih humanis? Rasa-rasanya, alasan bahwa polisi ingin menjaga kesan baik-baik di mata masyarakat sudah tidak valid lagi. Justru, jika masyarakat bisa memahami polisi secara manusiawi, niscaya banyak orang yang bangga mengenakan seragam coklat itu dan menegakkan keadilan. Jreng! Bukan bernada promosi, nieh! Melirik dari negeri Paman Sam, film-film bertemakan polisi, sheriff, deputy, agent, atau apa pun namanya, selalu mendapat tempat di hati. Mulai dari yang bersemangat gebuk penjahat dulu baru interogasi seperti Dirty Harry (1971), penuh intrik dan drama seperti The Departed (2006), yang gaib nan ajaib seperti Ace Ventura (1994) hingga sekelompok cowboy gagah berani di The Tombstone (1993), industri film Paman Sam tampaknya tak pernah kehabisan ide untuk menceritakan pahlawan-pahlawan mereka.

Tu... Wa... Ga

Tu… Wa… Ga *Ngos… Ngos…”

Oke, balik lagi ke laptop… 13 Agustus ini, sinema Indonesia bakal diwarnai oleh konten yang cukup segar walau bukan yang pertama kalinya; film perang. Merah Putih, sebuah epik yang sedianya direncanakan untuk trilogi ini sebetulnya bisa menjadi batu penjuru buat sineas yang lain agar berani mengambil langkah serupa yang sudah dilakukan sutradaranya, Yadi Sugandi. Sudah banyak diberitakan bahwa film berbujet besar ini memakai tenaga profesional yang diimpor langsung dari Hollywood untuk memoles Merah Putih menjadi film perang yang mendekati real. Efek ledakan, make-up, senjata, bahkan tank sempat gue lihat di trailernya. Tentu, untuk membuat sebuah film tentang polisi, tak melulu membutuhkan semua atribut di atas serta dana gila-gilaan. Minimal, Merah Putih menjadi pionir yang baik mengenai bagaimana (sineas) film lokal tak malu belajar dari (sineas) film luar.

Demi negara! (dan wanita...?)

Demi negara! (dan wanita…?)

Penayangan penggerebekan teroris di Temanggung yang diliput secara live oleh wartawan media massa sebenarnya membawa babak baru bagi ‘pengadeganan’ sebuah aksi yang dilakukan oleh polisi Indonesia. Jauh sebelum itu – tepatnya di tahun 2005, media massa juga sempat menyiarkan secara eksklusif saat pasukan yang sama mencoba menangkap gembong teroris Dr. Azahari di Batu, Malang, namun harus berakhir dengan baku tembak dan ledakan yang menewaskan ahli bom itu. Gambar-gambar itu –terlepas apakah itu hanya rekayasa atau bukan – minimal bisa menginspirasi seseorang (baca: filmmaker, lho! – bukan bakal teroris) untuk mereka-ulang insiden yang menghebohkan tadi. Unsur-unsur intelijen yang membangun ketegangan saat mengejar pelaku teror seperti di Munich (2005) hingga pelaksanaan penangkapan pelaku seperti di *errr*…. yah, seperti yang kita lihat pagi itu di seluruh stasiun televisi nasional kita. Nggak ada yang lebih meyakinkan selain menonton sebuah rumah sederhana di sebuah dusun terpencil didekati robot morolipi v1.0, lalu tiba-tiba beralih ke ‘adegan’ lain di mana bom meledak di dalam rumah itu serta menggetarkan dinding dan atapnya. Dahsyat!

gue berharap, suatu hari nanti akan ada karya film yang diinspirasi oleh peristiwa ini, yang bisa memberikan inspirasi balik kepada penontonnya. Agar suatu saat nanti, profesi polisi sebagai pengayom dan pelindung masyarakat mendapat tempat yang layak di negara ini. Semoga….

Filed under: Preview

Beri Komentar