22
Dec

Quantum Leap: The Magic of Avatar

REVIEW “AVATAR” (2009)

James Cameron's Avatar

Ohhh, look at them blue monkey lovebirds…

Gue mengenal James Cameron saat menyaksikan cyborg-war flick, Terminator 2: Judgment Day. To me, at the time, melihat Robert Patrick meleleh, melengkung, menjadi ‘sesuatu’, dan membunuhi satu persatu orang di depannya lalu meniru –menyamar seperti mereka, seperti menyaksikan kartun surreal Felix The Cat, blood added. Yeah, it was 1997, delapan tahun setelah tayang perdana di seluruh dunia yang sempat menggegerkan industri perfilman- $102 million budget in the making!! Di dekade tahun 90-an, duit segitu sudah dianggap super-melimpah dan bisa untuk bikin 5 seasons of Baywatch! Hehehe.. Oh, those days were the curviest days of my life.. *slurp* (Gambar dan Trailer, di dalam!)

Where were we? Oh yes, tentang T2! Jadi, si sutradara yang ternyata sudah pernah bikin produser dan rumah produksi Hollywood ketar-ketir setiap kali dia masuk ke kantor mereka dan membawa proposal film, memang sangat mahir membuat proyek dengan biaya mega-ultra-besar. Dugaan Gue terbukti saat Titanic muncul dan bikin jaw-dropping pada hampir segalanya. Skala film ini sebegitu besar, sampai-sampai Danau Kaspia –the biggest lake in the world- bakal luber hanya untuk menampung seluruh air mata heartthrob ladies di seluruh dunia saat pasrah melihat Jack Dawson perlahan-lahan tenggelam ke dasar Laut Atlantic. Not to mention those dimwitted men yang ikut terharu dan menambah faktor penobatan Titanic menjadi ikon drama pop terpopuler di era 1990-an. Well, setidaknya their girlfriends berhasil mengajak mereka serta menambah punda-pundi Titanic menjadi $1.8 billion gross world-wide. Enough to build a  ship, I assume?

Belajar dari pengalaman, tampaknya James (kembali) bercita-cita menaklukkan dunia dengan maha-karya terkininya, Avatar. Check this out: “12 years in the making”, estimated budget of $230 million – menjadikan Avatar sebagai film dengan biaya produksi termahal sepanjang sejarah dan the latest technology made specifically for this film may shape the very foundation of movie-seeing experience. Mau apa lagi, coba? Golden Globe nominations? Done! Belum apa-apa, film ini sudah mendapat empat nominasi Golden Globe, termasuk Best Director dan Best Mition Picture – Drama. Gue sampai menduga, apakah para ballot voters itu sudah menontonnya, ya? Atau karena terpengaruh huru-hara dengungan filmnya sendiri sejak awal tahun ini? Apa pun itu, BD punya opini tersendiri tentang film sci-fi ini.

First of all, Gue menyiapkan diri dengan menonton secara marathon, film-film James terdahulu. Why? Agar Gue bisa memandang objektif Avatar, based on James’ previous hand-made. BluRay yang Gue pilih antara lain, T2 (tentu saja!), ALIENS (this is a MUST!), The Abyss dan Aliens of The Deep. Bagi yang kurang awam dengan dua judul terakhir, itu justru genre favorit James. Dia senang dengan hal-hal misterius dan beranggapan bahwa Bumi sendiri adalah planet asing yang masih belum dijelajahi. Mengapa tidak True Lies atau malah Titanic? Jujur saja, I can’t endure the torture of watching Titanic for the 5th time! As for True Lies, I don’t think it was the right time of comparing Ah’Nuld’s rock-em, bake-em mission with this one. Tema-nya kan sci-fi, jadi harus mirip-miriplah!!

James Cameron's Avatar

How did CGI become this sexy?

Setelah marathon, the D-day akhirnya datang juga! Awalnya sempat bingung juga, karena ada pilihan 3D dan non-3D. Setelah timbang sana-sini, Gue memutuskan melihatnya in 3D mode. Putusan ini lebih kepada pool-factor bahwa Avatar – dengan teknologi 3D ter-gres-nya akan menggoyahkan iman siapa pun.. I was about eager to challenge that fact.

Setelah dua jam 40 menit, ini yang ada di pikiran Gue tentang Avatar: the trailer is fun, but the film is a whole new experience! Gue pikir, 3D helps a lot! Walau sayangnya, Gue nggak dapat menilai lebih tentang efek 3D ini, karena ini adalah pengalaman pertama Gue. Yes, I admit, BreaDers! The only 3D film I have ever seen was Jenna Jameson Interactive 3D DVD. It doesn’t even require the 3D glasses! But, TRUE, Avatar memang menaruh perhatian pada detail yang tersebar di sepanjang film. Detail lingkungan –mulai dari Head-up Display (HUD) yang lebih canggih ketimbang Iron Man, tapi tidak lebih keren ketimbang District 9; detail Pandora dan flora dan fauna di planet itu, hingga kehidupan manusia di sana – lengkap dengan set headquarter megah serta kendaraan operasional/tempur. Itu belum seberapa, James bahkan menyewa seorang profesor ahli bahasa dari University of Southern California, Paul Frommer untuk mengembangkan bahasa Na’vi, suku yang mendiami planet Pandora. Tak kurang dari 1,000 kosa kata Na’vi, termasuk gramatikal bahasa sudah dibuat oleh Paul. Seakan belum lengkap, jika WETA Digital membuat hanya SATU Gollum dengan teknologi motion-capture, maka di sini WETA membuat LEBIH dari satu Gollum.. err.. maksud Gue, orang Na’vi. Seperti James sendiri ujar pada suatu kesempatan, “We have 1,600 shots for a 2.5 hour movie. It’s not with a single CGI character, like King Kong or Gollum. We have hundreds of photo-realistic CG characters. We were Microsoft’s sandbox for filmmaking beyond the cutting edge.”

Gue akan menyimpan tenaga dengan tidak membahas cerita Avatar, karena BreaDers pasti sudah tahu tentang plot yang ditulis oleh James sendiri sejak sebelum dia membuat Titanic. In fact, ini memang titik lemah Avatar, karena jika jeli, kita pernah melihat cerita serupa di Kevin Costner’s Dances With Wolves atau Tom Cruise’s Last Samurai. Agaknya, James pun cukup mahir dengan alur serupa karena T2 pun bercerita tentang a cyborg fights his own kind. Formulaic though, tapi tetap menggugah hati. And for me, Sam Worthington plays his role just fine. Sejak lihat dia di Terminator Salvation dan beberapa serial JAG, Sam memang memiliki karisma tersendiri. He’s Australian to be precise dan karakter Jake Sully mengingatkan Gue akan rekan senegaranya, Russel Crowe sebagai Maximus di Gladiator: seorang prajurit yang memendam penderitaannya namun tetap a warrior at heart, despite all his weakness, as if his one destiny was to lead his flock against tyranny.

James Cameron's Avatar

Everything’s all techy-scifi-like

Satu lagi karakter dominan yang menarik mata dan hati adalah Neytiri, well played by Zoe Saldana. Walau dibungkus CGI setinggi tiga meter serba-biru dan berekor, bagi mata yang jeli sanggup mengenali Zoe yang pernah menjadi kick-ass commander Uhura di J.J. Abrams’ Star Trek. (Yeah, as if you would recognise Andy Serkis as Gollum!!) Neytiri tidak hanya membuat Jake jatuh cinta kepadanya, tapi juga bikin Gue jatuh cinta pada dunia Pandora yang dia kenalkan lewat tumbuhan fluorescence eksotis dan hewan super ganjil yang bisa dikendalikan lewat sejumlah syaraf/neuron yang keluar dari kepang rambut alien berwajah kucing ini. With 3D, everything is so real! Belalang sembah raksasa nan ganas, atau harimau bermata enam di Star Wars: Attack of The Clone menjadi tampak seperti hewan-hewan Disney. Lewat mata Neytiri juga, kita ditantang untuk berani menunggang Banshee, menjadi panik dan kalut saat diserang pasukan manusia pimpinan Col. Miles Quaritch, hingga blushing saat Jake menggodanya. Intinya, Neytiri adalah contoh mutakhir dan spektakuler citra emosi manusia melalui software. I guess, in not-so-distant-future, these Gollum-like creatures will be running for Oscar© nominees. Beware Tom Hanks, *Gollum!*-*Gollum!*

Tapi, serius deh, guys.. Neytiri, Jake Sully, Tsu’tey dan kawan-kawan merupakan seeing-is-believing experience. Walau sempat diperlemah dengan dialog-dialog klise a la Anakin-Padmé, tapi mata Gue enggan beranjak dari interaksi mereka. Tidak seperti film-film full CGI macam Beowulf atau Polar Express, di mana karakter yang tampil minim emosi dan tidak punya mimik muka bagai John Cena, James Cameron benar-benar membuktikan omongannya bahwa ia akan memanfaatkan teknologi yang dikembangkannya selama belasan tahun itu menjadi sebuah pendekatan paling canggih yang pernah ada di sejarah perfilman.

But then, it all comes down into 230 million Dollar question: jika Avatar ditonton tanpa moda 3D, apakah kesan ini masih ada? Untuk membuktikannya, Gue berani keluar duit lagi demi BreaDers dan menyaksikan Avatar tanpa 3D. Hasilnya? Seperti makan popcorn tapi lupa beli sekaleng minuman soda. The adjective is, well, ”blue-in-the-face”. Ambil satu contoh: perbedaan paling kentara dapat dilihat pada layar monitor hologram yang ada di ruangan utama headquarter milik Parker Selfridge (Giovanni Ribisi). 3D membuat layar tersebut menjadi lebih nyata dan interaktif, sementara 2D hanya membuatnya seperti HUD di game HALO atau Modern Warfare saja. Begitu pula seluruh lingkungan yang tadinya aktif dan menyala-nyala seakan hadir langsung di depan penonton, berubah seperti alam yang cuma bisa ditonton lewat one-way-mirror saja. “You should see your faces,” cengir Trudy dan ini membuat Gue makin kebingungan, apakah Avatar tak lebih dari pamer teknologi? Benarkah Michelle Rodriguez tidak se-seksi seperti yang terlihat lewat 3D? Atau Gue hanya kelupaan minuman soda saja?

But, don’t you worry me hearty, karena jika BreaDers tidak terlalu ambil pusing dengan format 3D atau 2D, maka setidaknya pilih bioskop dengan tata suara yang cukup menggelegar, gambar yang jernih serta tempat duduk yang nyaman. 2 jam 40 menit tidak sebentar, mate! Jika salah satu di atas tidak ada, then you’d better listen to Col. Miles because you are not in Kansas anymore. You are in Pandora!”

Avatar
Sutradara:James Cameron
Penulis Naskah:James Cameron
Tanggal Rilis: 17 December 2009 (Indonesia)
Genre: Animasi, Petualangan, Fiksi Ilmiah, Fantasi
Tagline: Enter the World

4 Bangku

Filed under: Review

2 Responses to “Quantum Leap: The Magic of Avatar”

dimango Says:

gw sukkkkkaaaa sama blog ini, heheheeeeee…

keep post!

dimango Says:

eh, bukan blog. maksudnya:

gw sukkkkaaaa sama bangkudepan.com (tanpa perlu pusing, apakah ini blog atau nggak ^__^)

Beri Komentar