The Curious Case of Sherlock Downey Jr
REVIEW “SHERLOCK HOLMES” (2009)

The boys are back in town!
Sebenarnya, sudah 3 minggu terlewati sejak gue nonton film ini. Jujur saja, setelah keluar dari gedung bioskop, gue menghabiskan hari, pusing mencari jawaban atas teka-teki sinematik bertajuk: Sherlock Holmes. Tetapi datang seperti sebuah blessing in disguise, gue menunda untuk menulis ulasan ini ternyata ada berkahnya juga. Seperti sendal jepit yang kalo dicari malah ngilang, ketika nggak dicari malah nongol didepan gue.
Aaanyway… Ternyata setelah sebulan bertahan di box office, gue menemukan beberapa teman yang masih berminat nonton flick terbaru arahan Guy Ritchie ini (Snatch “Fabulous“, Revolver “Frivolous“). Iklannya di koran saja sudah segede perangko, film berkelas lainnya sudah bertaburan: Princess and the Frog, Whip It, Suster Keramas… So why?
Sutradara Inggris yang pamor lewat film-film multi-storyline, multi-character dan multi-accent ini justru terpilih menyutradarai evolusi terkini detektif yang beralamatkan 221B Baker Street, London itu. Bagi gue keterlibatan Ritchie bermakna ganda: di awal karir mantan momongan Madonna ini, gue sangat terkesan dengan tema cerita dan aksen khas lokal a la Lock Stock and Two Smoking Barrels, tapi gue kecewa sekaligus terheran-heran ketika ia menggarap sebuah komedi romantis – dengan si Ratu Pop sebagai pemeran utama – Swept Away. Nggak heran dong, kalau gue sempat cross my fingers ketika nonton trailernya beberapa bulan yang lalu, berharap Guy Ritchie nggak sedang mabuk (cinta) ketika setuju memimpin produksi movie ini.
Walaupun digarap oleh sutradara yang so-so, nggak bisa dipungkiri bahwa star-value film ini tinggi banget! Jude Law, aktor asli Inggris yang aktingnya terkenal luwes dan fleksibel mendapat peran sebagai Dr Watson. Bagi BreaDers yang pernah nonton film adaptasi Holmes lainnya, pasti tebingung-bingung dengan sosok Watson yang transformed menjadi sebuah lean mean fighting machine walau pincang dan serba nggak meyakinkan itu. Jangan khawatir BreaDers! Menurut sumber yang lumayan terpercaya, sosok Watson sebenarnya digambarkan oleh sang penulis novel, Sir Arthur Conan Doyle, ya justru yang seperti ini! But what’s a movie without a Bold Beauty? Femme fatale di film ini dimainkan oleh Rachel McAdams sebagai Irene Adler, kekasih Holmes yang punya kerjaan sampingan sebagai pencuri kelas dunia. BD mulai mengenal McAdams ketika sukses sebagai seorang bitch (*pardon my French*) di Mean Girls, lalu ketika menunjukkan kebolehannya sebagai wartawan yang brainy di State of Play. This time around, I think she played a pretty convincing brainy bitch (*Ooh, there goes that French again*)!

You gotta be more English with your English, Robert! says Mr Director.
The MVP of this movie is, of course, Mr Robert Downey Jr. Sosok aktor yang memiliki sejarah kelam dengan narkoba kini kian digandrungi sutradara dan produser kelas kakap karena memiliki sebuah “aura gelap”; hal yang tidak dimiliki seorang goody-two-shoes, Tom Hanks misalnya. Kesan trouble-maker ini adalah sisi riil yang membuat peran Holmes sebagai troubled hero menjadi amat realistis. Oh yeah, dengar-dengar filmmaker di mana-mana berebut meng-casting dia untuk main di film mereka. Lalu, gue sempat berpikiran apakah Robert Downey Jr.-lah yang menarik perhatian moviegoers dan menjadikan Sherlock Holmes sebuah box office hit? Tetapi setelah “a period of study” (Hey, we’re not some writers who read other people’s work. We’re scientist!), gue berani menyimpulkan bahwa aktor yang baru saja memenangi Best Performance by an Actor in a Motion Picture – Musical or Comedy di Golden Globes 2010 lewat perannya di film ini, memang hebat dalam menciptakan sosok baru bagi the legendary sleuth. Namun Holmes yang satu ini membicarakan semua yang dia pikirkan, bak peserta kuis Who Wants to Be A Millionaire yang kebanyakan minum kopi. Kemudian idenya di “ping-pong-kan” kembali oleh Watson, lewat dialog yang super cepat dan tanpa jeda. Kadang-kadang, ke-super-akraban kedua karakter ini menghasilkan kesan bahwa hubungan mereka memang agak-agak bromance (Bro-therly, ro-Mance – get it?).
So, what about the story? Pada pembukaan film ini, kita diperkenalkan kepada villain Lord Blackwood (the suitable Mark Strong). Selagi mempraktekkan voodoo ala Criss Angel, Holmes & Co menggagalkan rencana “iblis”nya dan sukses menjebloskan Blackwood ke penjara untuk dihukum mati. Walaupun kepolisian London dengan bantuan Watson telah mengkonfirmasi kematiannya, Blackwood kembali dari alam kubur demi menuntaskan tujuan utamanya, his grand scheme untuk menguasai parlemen Inggris. “A little bit too elementary eh, dear Watson?” Mungkin penulis naskah Michael Robert Johnson dan Anthony Peckham nggak sengaja menciptakan sebuah cerita untuk seorang Victorian era James Bond! Oh well, tapi hard-core Holmes fans nggak usah khawatir, ada sebuah cameo role untuk seorang Profesor You-Know-Who dalam film ini.

Seorang pencuri di sarang penyamun?
Namun seperti yang gue katakan sebelumnya, ada sesuatu yang membangunkan rasa ingin tahu para penggemar film. “This movie is a must see!” Kata teman gue. Kenapa? “Karena Sherlock Holmes!” Spot on, indeed! Seperti ketika pertama kali gue menangkap kabar bahwa Sam Raimi sedang menggarap film Spiderman, gue langsung penasaran. I have to see it. Karena Spiderman dan seperti halnya Sherlock Holmes adalah sosok yang gue kenal dan kagumi sejak muda. Seorang detektif brilian yang selalu ditantang oleh misteri-misteri seru. Apalagi dengan segala kemungkinan dan kemutakhiran dunia perfilman belakangan ini, gue mesti tau seperti apa inkarnasi Detektif Holmes yang terbaru. Bagaimana talenta-talenta perfilman menghidupkan karakter kembali dan membuatnya relevan pada isu-isu masa kini.
Pada akhir film, gue berani berasumsi akan ada sebuah sekuel, dan bahwa Sherlock Holmes ditakdirkan untuk menjadi sebuah movie franchise. So, in terms of a longlasting-reboot franchise-to-be (thuch a thongue-thwister that!), Ritchie’s Holmes at least yields an interesting perspective for the bohemian-detective; challenging the notion that solving a puzzling mystery is a potent, and the only drug for him. Kita bisa jadi nggak mendapatkan visualisasi macam ini jika baca novelnya. However, jika gue boleh memberikan satu buah kritik membangun, gue akan bilang: dalam segi cerita, gue mohon untuk lebih merujuk pada bukunya, please! But for now, detective, the less you think about it, the better this movie gets. And I do mean that as a compliment!
Sherlock Holmes
Sutradara: Guy Ritchie
Penulis Naskah: Michael Robert Johnson dan Anthony Peckham
Tanggal Rilis: 27 Desember 2009 (Indonesia)
Genre: Aksi, Petualangan, Misteri
Tagline: “Nothing Escapes Him”

Filed under: Review
3 Responses to “The Curious Case of Sherlock Downey Jr”
January 24th, 2010 at 11:48 am
Wow…. gue lom nonton sep… tapi gue penggemar sherlock. Menurutku, buku selalu lebih bagus daripada film karena kita bebas membayangkan tokoh dan setting ceritanya. Tapi klo pemainnya Robert Downey Jr dan Jude Law boleh la nonton… hehehehe…
January 24th, 2010 at 11:59 am
aku gak pernah baca novelnya, tapi nonton film-nya..bagus, menghibur…
February 4th, 2010 at 9:27 am
Aku pernah baca novel tapi terjemahannya, kok ngantuk ya? mungkin pas ceritanya gak menarik, ato aku memang gak suka novelnya. blum dicoba lagi sih baca. sementara ini, nonton filmnya lebih asik.