L’amour et la Passion de Coco
REVIEW “COCO AVANT CHANEL” (2009)

Pictured above, is an ambitious cutie…
Do you know Coco Chanel? Nope, who is she? Malah itu jawaban yang Gue dapat waktu tanya ke salah satu teman Gue yang bisa dibilang ‘movie freak’. Yah, setidaknya jawaban itu wajar karena bagaimana pun, teman Gue itu cowok and men at my office still lets their mother take care of their “fashion”, if you can call it that! (Thank God the editor allows me to use an alias!).
Sewaktu Gue lihat trailernya di internet, Gue selalu bilang ke diri sendiri bahwasanya wajib hukumnya nonton film ini. Kenapa? Karena dia fenomenal banget di dunia fashion. She’s one of pioneers in the fashion world. Her life’s work defines the liberation of women. Dialah wanita yang menginspirasi wanita lain untuk merasakan kebebasan di balik keanggunan. Hal inilah yang akhirnya membantu wanita untuk menghadapi era modern. (Dalam kamus Gue, artinya: pake baju aja kok repot? Yang asyik-asyik aja, asal nyaman tapi tetap anggun, itu sudah cukup, hehehe!)
Film berdurasi 105 menit yang disutradarai oleh Anne Fontaine ini diangkat dari buku karya Edmonde Charles-Roux. Film ini mengisahkan tentang kisah hidup Gabrielle ‘Coco’ Chanel (Audrey Tautou, yang beken setelah bermain di film “Amélie” sebelum menjadi ikon dunia fashion abad ke-20. Awalnya Gue berharap bisa menemukan perjalanan Chanel di dunia fashion, kisah, intrik, maupun sepak terjangnya saat membangun label ini. Ternyata harapan Gue tidak terkabul karena titik berat film ini adalah seputar kepribadian dan drama percintaan Chanel dengan dua pria yang sangat memengaruhi hidupnya. Etienne Balsan (Benoît Poelvoorde) dan Alessandro Nivola (Arthur ’Boy’ Chapel). Mereka nantinya akan menjadi inspirasi dan kekuatan Chanel untuk menjadi ’seseorang’. Tapi jangan khawatir, BreaDers… Karena film ini benar-benar layak ditonton berkat kekuatan akting Audrey Tautou. Dan tentu saja baju-baju yang indah…
…women should dress for themselves and not their men, and true fashion comes from the streets, or it isn’t fashion…
Walau tidak seperti yang Gue harapkan, namun film ini tetap menonjolkan kepribadian Coco yang selalu kritis dan berpikir untuk tampil beda. Chanel berusaha mengubah cara berpakaian perempuan dengan mengenalkan filosofi baru di dunia fashion.

Oooh, a masculine mademoiselle…
Lihat saja saat adegan Coco berkuda. Saat itu, umumnya wanita berkuda menggunakan gaun lengkap dengan duduk menyamping. Namun dia berani untuk mendobrak tradisi dengan memakai celana dan menunggang kuda dengan gaya pria. Walaupun gayanya dianggap aneh, namun dari situlah awal Coco berinteraksi sosial dengan golongan orang kaya.
…to be different and wanting to be independent…
Coco menjadi wanita simpanan Etienne Balsan, seorang playboy yang bersedia membiayai perjalanannya ke Paris dan memberi modal untuk membuka bisnis topi. Topi menjadi salah satu produk fashion yang digemari saat itu. Ketika topi dengan aksen bulu dan renda dengan warna-warna cerah banyak diproduksi, Coco malah membuat topi bahan jerami dengan aksen sederhana dan cenderung maskulin. Mengutip kata-kata Ludwig Mies van der Rohe sebagai prinsip desain minimalis dalam arsitektur, Less is more… enggak perlu aksesoris aneh bin rame juga bisa gaya kok! Okay, by the way any busway, kembali ke laBtoP…Setelah bertemu Boy (tapi bukan diperankan Onky Alexander), kehidupan Chanel mulai berubah. Boy menawarkan cinta dalam kehidupan Chanel dan bahkan rela menunjang ekspansi bisnis dari topi ke pakaian.

May I say, your cigarette smoke smells wondrous!
Salah satu kenekatan Chanel yang membuahkan tren busana di kemudian hari adalah membuat baju longgar dengan bahan jersey. Bahan ini biasanya digunakan untuk pakaian laki-laki dan harganya murah. Lihat juga aksinya saat diajak dinner oleh Boy. Dia memilih bahan kesukaanya dan mengenakan little black dress di pesta dansa. Longgar dan nyaman namun tetap anggun.
Masih penasaran dengan Chanel, gue sempat mencari film dengan versi berbeda berjudul Coco Chanel (2008), diperankan Barbora Bobulova (Chanel muda), Shirley MacLaine (Chanel tua), Sagamore Stevenin (Etienne) dan Olivier Sitruk (Arthur Boy Chapel). Di sini pemeran Etienne digambarkan sebagai sosok yang lebih muda dan tampan. Alur ceritanya hampir sama namun lebih detail. Tak hanya kisah percintaan namun juga perjuangan Chanel membentuk labelnya mulai dari nol (asal muasal logo Chanel dan tentu saja kisah toko topinya). Di versi menyajikan flashback kehidupan Chanel, versi tua dan muda. Menurut gue, ada baiknya untuk nonton versi ini, jadi bisa lebih ‘melek’ fashion.
Jadi kesimpulannya, terjun ke dunia desain fashion itu nggak mudah lho… So, bagi kalian yang sekarang masih bingung mau nampilin tren mode apa di prom nite, nggak ada salahnya kamu coba tonton film ini. Dijamin, the other girls will want to be your BFF!
Coco Avant Chanel
Sutradara: Anne Fontaine
Penulis Naskah: Edmonde Charles-Roux (buku), Anne Fontaine
Tanggal Rilis: 25 September 2009 (Amerika Serikat)
Genre: Biografi, Drama
Tagline: “Before she was France’s famous mademoiselle…”

Filed under: Review